Seni ukir Jepara kembali membuktikan daya tariknya di kancah internasional setelah sukses memikat puluhan mahasiswa asing dari berbagai belahan dunia. Pelestarian warisan budaya lokal ini dinilai tidak hanya sekadar aktivitas ekonomi semata, melainkan wujud nyata menjaga jiwa seni pahat kayu agar tetap hidup.
Berdasarkan laporan Tribun Jateng, sebanyak 25 mahasiswa asing mengikuti pelatihan seni ukir dalam program Summer Course 2026 Buja Sejana 2 yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang di Galeri Jepara Wood Carving.
Para peserta mancanegara tersebut datang dari berbagai negara, di antaranya Mesir, Pakistan, Ghana, Tanzania, India, Nigeria, Afghanistan, Yemen, Gambia, Uganda, Sudan, Thailand, Timor Leste, hingga Tajikistan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSalah satu peserta asal Uganda, Huzairu Kanamwangi, tampak sangat antusias mencoba menggunakan alat pahat kayu tradisional untuk pertama kalinya. Berkat bimbingan yang diberikan, mahasiswa program pascasarjana yang sedang menempuh studi di Universitas Diponegoro tersebut berhasil menyelesaikan ukiran nama beserta motif khas.
"Saya akan membawa karya ini ke negara saya dan menunjukkan bahwa saya yang membuatnya saat di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia," ungkap Huzairu penuh bangga mengenai rencana membawa hasil karyanya pulang ke kampung halaman.
Antusiasme serupa juga ditunjukkan oleh peserta lainnya, termasuk Sayed Rahman Hamid asal Afghanistan, yang merasa kagum dengan kerumitan sekaligus keindahan teknik ukir tradisional yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat pesisir Jawa Tengah tersebut.