Gunung Rinjani yang dikenal sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia kini memiliki pendekatan baru dalam pengelolaan pendakian, khususnya melalui jalur selatan di Desa Pengadangan, Kabupaten Lombok Timur. Masyarakat adat setempat tengah berupaya menghidupkan kembali tradisi Sembeq Buraq sebagai bentuk ketaatan terhadap awiq-awiq atau hukum adat yang berlaku.
Menurut penjelasan tetua adat Desa Pengadangan, Nandur Annasip, Sembeq Buraq secara etimologis berasal dari kata "sembeq" yang berarti mengoleskan tanda pada tubuh, dan "buraq" yang berarti suci atau bersih. Ritual ini menggunakan media hasil kunyahan sirih atau pamaq yang dioleskan pada bagian tubuh tertentu seperti kening, telapak kaki, hingga dada sebagai simbol kedamaian manusia dengan alam.
Sebagaimana diberitakan oleh Suara.com, Nandur menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar aktivitas seremonial. "Alam semesta juga memiliki cara tersendiri dalam memuja Pencipta," ujarnya menjelaskan filosofi di balik ritual tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, pihak Pemuda Rinjani Selatan dan tokoh adat kini mengusulkan agar Sembeq Buraq diintegrasikan ke dalam aturan resmi pendakian. Jika disetujui, setiap pendaki, baik domestik maupun mancanegara, wajib mengikuti prosesi ini sebelum memulai pendakian sebagai pengingat untuk menjaga etika, tidak berkata kasar, serta tidak merusak ekosistem hutan.
Sebagai bagian dari ritual, pendaki akan dibekali bawang putih yang diletakkan dalam mondoq mama, sebuah wadah anyaman daun kelapa. Nandur menekankan bahwa benda tersebut bukanlah jimat, melainkan pengingat agar pendaki selalu rendah hati. "Mondoq mama itu bukan jimat, melainkan hanya sebagai pengingat bagi pendaki. Mendaki adalah jalan untuk menikmati keagungan Tuhan Yang Maha Esa, bukan berjalan semau kita," jelasnya.