Bahasa Sunda dituturkan oleh jutaan penduduk bersuku Sunda di wilayah Tatar Sunda, Indonesia, serta tersebar melalui jalur transmigrasi dan imigrasi ke berbagai daerah luar pulau Jawa. Mengutip laporan dari ensiklopedia terkait, bahasa yang termasuk dalam cabang Melayu-Polinesia rumpun Austronesia ini memiliki penutur setidaknya mencapai 42 juta orang pada tahun 2016.
Dari analisis awak media, eksistensi bahasa ini tidak hanya berakar pada wilayah barat pulau Jawa saja, melainkan telah merambah ke bagian barat Jawa Tengah seperti Kabupaten Brebes dan Cilacap akibat pengaruh historis Kerajaan Galuh. Sebaran penuturnya kini juga dapat ditemui secara signifikan di Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Tenggara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan catatan sejarah penulisan, bahasa Sunda awalnya ditulis menggunakan aksara Sunda Kuno yang merupakan turunan aksara Pallawa lewat aksara Kawi. Seiring berjalannya waktu dan berbagai dinamika kolonialisme termasuk ultimatum VOC pada 3 November 1705, sistem penulisan mengalami pergeseran signifikan ke arah penggunaan aksara Jawa termodifikasi atau Cacarakan, abjad Pegon, hingga akhirnya diintensifkan menggunakan alfabet Latin.
Dalam tatanan komunikasi sehari-hari, bahasa Sunda memiliki tingkat tutur atau tatakrama basa yang didasarkan pada tingkat keakraban antar pembicara. Berdasarkan ragam bahasanya, masyarakat mengenal pembagian ragam hormat dan loma, serta variasi kosakata mulai dari lemes hingga loma yang memperkaya khazanah kebudayaan Nusantara.