Masjid Langgar Tinggi berlokasi di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, tercatat sebagai salah satu tempat ibadah bersejarah di ibu kota. Bangunan ini awalnya dibangun sebagai sebuah langgar di atas penginapan tepi Kali Angke oleh saudagar asal Yaman, Abu Bakar Shihab.
Berdasarkan catatan sejarah, papan di atas pintu masuk menyebutkan masjid ini didirikan pada tahun 1249 Hijriah atau 1829 Masehi. Sejarawan Adolf Heuken memperkirakan tahun tersebut bertepatan dengan 1833 atau 1834 Masehi apabila merujuk pada kalender Hijriah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePada November 1833, bangunan ini mengalami perbaikan penting yang dilakukan oleh Syekh Sa'id Na'um, seorang saudagar kaya asal Palembang yang menjabat sebagai Kapitan Arab di Pekojan. Ia diandalkan untuk mengurus tanah wakaf dari Syarifah Mas'ad Barik Ba'alwi.
Perkembangan zaman membuat fungsi bagian bawah masjid bergeser secara signifikan. Area yang dulunya berfungsi sebagai penginapan kini berubah menjadi kediaman pengurus masjid serta ruang toko.
Arsitektur Unik Perpaduan Tiga Budaya
Akses langsung menuju Kali Angke yang dulunya dipakai para pelancong kini telah ditutup akibat pendangkalan dan pencemaran air sungai. Meski demikian, status bangunan ini telah resmi dilindungi sebagai cagar budaya oleh Pemerintah DKI Jakarta.
Masjid Langgar Tinggi berdiri di atas lahan dengan ukuran lantai dasar 8 kali 24 meter yang membujur sejajar dengan Jalan Pekojan Raya dan aliran sungai. Letaknya yang strategis membuat bangunan ini diapit langsung oleh jalan raya di sisi utara dan sungai di sisi selatan.
Keistimewaan utama masjid ini terletak pada gaya arsitekturnya yang menampilkan perpaduan harmonis antara unsur Eropa, Tionghoa, dan Jawa. Pengaruh budaya Eropa terlihat jelas melalui penggunaan pilar-pilar kokoh bergaya neoklasik Toskan.
Sentuhan kebudayaan Tionghoa tampak pada hiasan penyangga balok bangunan, sementara bentuk denah dasarnya mengadopsi gaya tradisional Jawa. Selain itu, terdapat pula hiasan menyerupai tugu kecil di bagian atas atap yang merupakan warisan pengaruh Moor.