Profil Perang Banjar atau Perang Kalimantan Selatan mencatat catatan sejarah sebagai perlawanan paling panjang terhadap penjajahan kolonial Belanda di Nusantara. Berdasarkan catatan historis, konflik bersenjata ini berlangsung hampir setengah abad mulai dari tahun 1859 hingga 1906 di wilayah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah.
Berdasarkan analisis awak media, akar konflik bermula dari intervensi politik mendalam serta hak monopoli dagang dipaksakan Belanda di Kesultanan Banjar. Ketegangan memuncak ketika Pangeran Nata merebut takhta dan menyingkirkan pewaris sah, memicu rangkaian perlawanan panjang yang kemudian melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeStrategi perlawanan rakyat Banjar dan Dayak berfokus pada taktik gerilya di pedalaman sungai Barito dengan membangun benteng-benteng pertahanan kokoh di tengah hutan. Solidaritas pejuang diperkuat melalui ikatan kekeluargaan serta hubungan pernikahan, membentuk poros perlawanan terpadu menghadapi kekuatan militer Belanda.
Meskipun tokoh-tokoh sentral seperti Pangeran Hidayatullah tertangkap dan Pangeran Antasari wafat, api perlawanan tidak padam begitu saja. Kepemimpinan beralih ke tangan generasi penerus seperti Gusti Mat Seman dan kawan-kawan, yang terus melakukan serangan gerilya sporadis hingga awal abad ke-20 sebelum akhirnya perang benar-benar berakhir.