Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / FIFA World Cup Trophy, Piala Emas...
OLAHRAGA

FIFA World Cup Trophy, Piala Emas yang Jadi Rebutan Dunia

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 7 Agustus 2026
Trofi FIFA World Cup Trophy terbuat dari emas dengan dua figur manusia

Trofi FIFA World Cup Trophy terbuat dari emas dengan dua figur manusia

FIFA World Cup Trophy adalah trofi berbahan emas yang diberikan kepada juara turnamen sepak bola Piala Dunia, ajang yang berlangsung setiap empat tahun sekali. Sejak turnamen pertama digelar pada 1930, dua trofi berbeda telah digunakan, yaitu Jules Rimet Trophy dari 1930 hingga 1970, dan FIFA World Cup Trophy yang mulai digunakan pada 1974 hingga saat ini. Nilai material trofi saat ini diperkirakan mencapai US$713 ribu atau sekitar Rp11 miliar.

Trofi pertama bernama Victory yang kemudian diubah menjadi Jules Rimet Trophy untuk menghormati presiden FIFA. Terbuat dari perak sterling berlapis emas dengan alas batu lapis lazuli, trofi ini menggambarkan Nike, dewi kemenangan Yunani. Brasil berhak menyimpan trofi asli setelah meraih gelar ketiga mereka pada 1970. Namun, nasib tragis menimpa Jules Rimet Trophy ketika dicuri pada 1983 dan hingga kini tidak pernah ditemukan kembali.

FIFA World Cup Trophy yang digunakan saat ini diperkenalkan pada 1974 dan dirancang oleh seniman Italia Silvio Gazzaniga. Trofi setinggi 36,8 cm ini terbuat dari emas 18 karat dengan berat 6,175 kg, ditambah pita malachite pada alasnya yang menambah berat 1,175 kg. Bentuknya menggambarkan dua sosok manusia yang mengangkat Bumi, melambangkan semangat persatuan dan kemenangan dalam olahraga. Trofi ini dibuat oleh perusahaan GDE Bertoni di Italia.

Hanya segelintir orang yang diizinkan menyentuh trofi ini dengan tangan kosong, termasuk pemain dan manajer yang memenangkan kompetisi, kepala negara, serta pejabat FIFA. Trofi ini disimpan di FIFA World Football Museum di Zürich, Swiss, dan hanya dikeluarkan pada acara-acara tertentu seperti undian final dan pertandingan pembuka serta final Piala Dunia. Tradisi mengangkat trofi ke udara dimulai pada 1958 oleh kapten Brasil Hilderaldo Bellini.

Kisah Unik dan Misteri di Balik Trofi Piala Dunia

Jules Rimet Trophy memiliki sejarah kelam dengan dua kali pencurian. Pertama pada 1966 di Inggris, trofi ditemukan oleh seekor anjing bernama Pickles di kebun pinggiran London. Pencurian kedua terjadi pada 1983 di markas Konfederasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro, di mana trofi dicuri dari lemari kaca. Meski empat pelaku diadili, trofi tak pernah kembali dan diduga telah dilebur menjadi batangan emas, meski sebagian meyakini trofi masih eksis di pasar gelap.

Nama-nama pemenang Piala Dunia diukir pada pelat di bagian bawah trofi. Spiral digunakan untuk mengakomodasi nama juara baru di setiap siklus. Setelah Piala Dunia 1994, pelat baru ditambahkan dengan tulisan menggunakan bahasa nasional masing-masing juara. Pada 2010, nama Spanyol tercetak dalam bahasa Inggris, namun diperbaiki pada pelat berikutnya setelah Piala Dunia 2018.

Pada 2010, kimiawan Sir Martyn Poliakoff mengungkapkan bahwa trofi Piala Dunia sebenarnya berongga, bukan padat. Jika solid, trofi akan memiliki berat 70-80 kg dan terlalu berat untuk diangkat. Produsen trofi kemudian mengkonfirmasi bahwa trofi memang dibuat berongga untuk alasan kepraktisan, meskipun tetap terbuat dari emas 18 karat yang mewah.

Trofi ini juga memiliki riwayat perawatan khusus, termasuk restorasi pita malachite-nya beberapa kali dan penambahan lapisan emas baru untuk menjaga kilauan. Sejak 2006, FIFA mengadakan tur trofi keliling dunia untuk memperkenalkan trofi kepada para penggemar di berbagai negara sebelum turnamen bergulir.

Topics
fifa world cup trophy piala dunia jules rimet trophy sejarah sepak bola trofi emas silvio gazzaniga fifa sepak bola internasional
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.