Dunia sepak bola kini tertuju pada sosok remaja berusia 19 tahun, Yan Diomande. Pemain asal Pantai Gading ini resmi memecahkan rekor sebagai pemain Afrika termahal sepanjang sejarah setelah direkrut oleh raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan nilai transfer fantastis mencapai $144,3 juta atau setara Rp 2,2 triliun.
Kepindahan Diomande ke Santiago Bernabeu bukanlah cerita sukses yang instan. Sebagaimana diwartakan oleh CNN, perjalanan hidup pemain yang dijuluki mirip legenda Brasil, Roberto Carlos ini, diwarnai dengan kisah pilu perjuangan seorang perantau muda yang sempat mengasah kemampuan di Amerika Serikat.
Menurut laporan media tersebut, Diomande tumbuh dengan keterbatasan di Abidjan. Bakat alaminya yang luar biasa membuat ia sempat berpindah-pindah agen hingga akhirnya menetap di DME Academy, Florida, saat berusia 15 tahun. Di sana, ia bertemu dengan Todd Eason yang menjadi sosok pengganti ayah baginya di tengah kerasnya industri sepak bola.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBukan hanya soal skill di lapangan, perjalanan karier Diomande juga dibalut kesedihan mendalam. Ia harus menerima kenyataan pahit saat sang kakak, Roxane, meninggal dunia akibat tragedi memilukan. "Setiap hal yang saya lakukan di lapangan sepak bola, itu untukmu," tulis Diomande dalam surat emosionalnya.
Kini, di bawah asuhan pelatih legendaris Jose Mourinho di Real Madrid, ekspektasi publik terhadapnya sangat tinggi. Mantan mentornya di DME Academy, Todd Eason, meyakini bahwa Diomande memiliki mentalitas yang kuat untuk menghadapi tekanan besar di klub barunya tersebut.
"Saya tidak tahu di mana batas kemampuannya. Saya belum pernah melihat dia benar-benar kewalahan, jadi saya bersemangat melihatnya di Real Madrid," ujar Eason dikutip dari laporan CNN terkait potensi sang bintang muda.