Tragedi kelam terjadi di Stadion Luzhniki, Moskow, pada 20 Oktober 1982. Dalam laga leg pertama Piala UEFA antara Spartak Moscow melawan HFC Haarlem, sebanyak 66 suporter tewas akibat desak-desakan di tangga keluar stadion. Peristiwa ini tercatat sebagai musibah olahraga terburuk di Rusia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu awal tragedi. Suhu saat itu mencapai minus 10 derajat Celcius dengan salju tebal. Dari 82.000 tiket yang tersedia, hanya sekitar 16.500 tiket yang terjual. Manajemen stadion pun memutuskan membuka dua dari empat tribun untuk memudahkan pembersihan salju, yaitu Tribun Timur dan Tribun Barat.
Sebagian besar penonton, sekitar 12.000 orang, memilih Tribun Timur karena lebih dekat dengan stasiun metro. Saat pertandingan memasuki menit-menit akhir, beberapa ratus penonton mulai bergegas keluar untuk menghindari kepadatan di stasiun. Mereka menuju tangga nomor 1 yang merupakan jalur terdekat menuju metro.
Musibah bermula ketika seorang penonton, diduga seorang wanita, terjatuh di tangga bawah karena kehilangan sepatu. Beberapa orang berhenti untuk menolong, namun arus massa yang padat dan terbatas oleh pagar besi membuat mereka ikut terinjak. Puluhan remaja yang turun dari atas tidak menyadari kejadian di bawah dan terus mendorong, menyebabkan tumpukan manusia yang mematikan.
Kejadian nahas itu bertepatan dengan gol kedua Spartak yang dicetak Sergei Shvetsov dua puluh detik sebelum peluit akhir. Para korban dibawa ke Institut Penelitian Medis Darurat Sklifosovsky. Keesokan harinya, pemimpin Soviet Yuri Andropov mengunjungi lokasi dan menemui korban luka serta keluarga mereka.
Dari 66 korban jiwa, 45 di antaranya adalah remaja berusia 14 tahun ke atas, termasuk lima perempuan. Hasil otopsi menyebutkan semua korban meninggal karena asfiksia kompresi atau kekurangan oksigen akibat tekanan di dada. Sebanyak 61 orang lainnya mengalami luka-luka, 21 di antaranya luka berat.
Investigasi kriminal dipimpin oleh Detektif Aleksandr Shpeyer dari Kantor Kejaksaan Moskow. Sebanyak 150 saksi diwawancarai dan menghasilkan 10 volume bukti. Empat pejabat stadion akhirnya didakwa atas kelalaian, termasuk Direktur Stadion Victor Kokryshev dan Manajer Yuri Panchikhin yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.
Kontroversi mewarnai pemberitaan tragedi ini. Selama tujuh tahun, jumlah korban tidak pernah diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang. Spekulasi beragam muncul, mulai dari 3 hingga 340 korban. Baru pada Juli 1989, surat kabar Izvestia mempublikasikan wawancara dengan Detektif Shpeyer yang mengungkapkan angka resmi 66 tewas dan 61 luka-luka.
Pada 1992, sebuah monumen didirikan di dekat lokasi tragedi untuk mengenang para korban. Stadion Luzhniki sendiri kini telah direnovasi dan menjadi venue final Piala Dunia 2018. Namun, kenangan kelam 20 Oktober 1982 tetap menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam setiap penyelenggaraan event olahraga.