Kejuaraan Dunia Hoki Es atau Ice Hockey World Championships menjadi ajang bergengsi bagi para pecinta olahraga es di seluruh dunia. Turnamen tahunan ini resmi di bawah naungan International Ice Hockey Federation (IIHF) sejak 1908 dan pertama kali diakui sebagai kejuaraan dunia pada Olimpiade Musim Panas 1920 di Belgia.
Sejak 1920 hingga 1968, turnamen hoki es di Olimpiade juga dihitung sebagai Kejuaraan Dunia. Baru pada 1930, kejuaraan dunia digelar sebagai ajang tersendiri yang diikuti 12 negara di tiga kota berbeda, yaitu Chamonix, Vienna, dan Berlin.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFormat turnamen terus berkembang seiring bertambahnya peserta. Pada 1951, 13 negara dibagi menjadi dua grup, dengan tujuh tim teratas memperebutkan gelar juara dunia di Pool A. Sistem ini bertahan hingga 1992 sebelum akhirnya diperkenalkan sistem playoff pada 1990.
Saat ini, Kejuaraan Dunia Hoki Es menampilkan 16 tim di grup utama, ditambah divisi I, II, dan III yang masing-masing diisi 12 negara. Jika peserta melebihi 52 negara, maka dibentuk Divisi IV untuk menampung tim-tim lainnya.
Dominasi Kanada dan Uni Soviet di Sepanjang Sejarah
Kanada menjadi negara paling dominan pada era awal kejuaraan dunia hoki es dengan raihan 12 gelar antara 1930 hingga 1952. Amerika Serikat, Cekoslowakia, Swedia, dan Swiss juga tampil kompetitif pada periode tersebut.
Kehadiran Uni Soviet pada 1954 mengubah peta persaingan. Negara komunis itu menjelma menjadi kekuatan baru yang mampu menyaingi dominasi Kanada. Dari 1963 hingga bubarnya Uni Soviet pada 1991, mereka meraih 20 gelar juara dari 26 edisi turnamen.
Setelah Uni Soviet pecah, Rusia tampil sebagai penerus pada 1992, disusul Republik Ceko pada 1993 dan Slowakia pada 1994. Persaingan semakin terbuka pada 2000-an dengan munculnya kekuatan baru seperti Finlandia dan kebangkitan tim-tim Eropa lainnya.
Kendala utama turnamen ini adalah jadwalnya yang bersamaan dengan babak playoff Stanley Cup NHL. Akibatnya, banyak pemain bintang dari liga profesional Amerika Utara tidak dapat memperkuat tim nasionalnya, sehingga tim-tim Eropa sering kali lebih diunggulkan.