Tim nasional sepak bola Gibraltar mewakili wilayah seberang laut Inggris di kompetisi internasional. Dikelola oleh Asosiasi Sepak Bola Gibraltar (GFA), tim ini resmi menjadi anggota UEFA pada Mei 2013 dan anggota FIFA pada Mei 2016. Gibraltar kini menjadi anggota UEFA terkecil kedua berdasarkan populasi, hanya di atas San Marino, sekaligus wilayah terkecil di antara seluruh anggota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meski bukan pulau, Gibraltar mulai membentuk tim resmi untuk kompetisi sepak bola di Island Games 1993 dan rutin berpartisipasi. Puncaknya, mereka berhasil menjadi juara pada edisi 2007. Sebelum diterima UEFA, laga tak resmi pertama terjadi melawan Jersey di Island Games 1993, dengan hasil kekalahan 1-2. Kemenangan terbesar tak resmi mereka adalah 19-0 atas Sark, sementara kekalahan terbesar adalah 0-5 dari Greenland.
Sejarah panjang tim ini bisa ditelusuri sejak April 1923, saat mereka bertandang ke Spanyol untuk melawan Sevilla. Dua pertandingan digelar dan keduanya berakhir kekalahan untuk Gibraltar. Namun, mereka sempat menorehkan hasil imbang melawan Real Madrid pada tahun 1949. Sebelum menjadi anggota UEFA, Gibraltar rutin tampil di Island Games, dengan hasil terbaik menjadi juara pada 2007.
Proses keanggotaan UEFA bukanlah jalan mulus. Gibraltar pertama kali mendaftar pada 1999 tetapi ditolak akibat oposisi keras dari Spanyol yang mengklaim wilayah tersebut. Upaya kedua pada 2007 juga gagal setelah UEFA memberlakukan aturan bahwa anggota haruslah negara berdaulat yang diakui PBB. Namun, Gibraltar tidak menyerah dan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 2007 dan 2011, yang akhirnya memenangkan hak mereka untuk menjadi anggota UEFA. Pada 24 Mei 2013, mereka resmi diterima sebagai anggota penuh dalam Kongres UEFA di London.
Penerimaan ini membawa konsekuensi besar. Gibraltar akhirnya bisa mengikuti kualifikasi turnamen besar Eropa, dimulai dengan Euro 2016. Debut resmi pertama terjadi pada 19 November 2013 dalam laga uji coba melawan Slovakia yang berakhir 0-0. Kemenangan resmi pertama di bawah naungan UEFA datang pada Juni 2014 saat mengalahkan Malta 1-0 lewat gol Kyle Casciaro.
Di kualifikasi Euro 2016, Gibraltar ditempatkan di Grup D bersama Jerman, Polandia, Georgia, Irlandia, dan Skotlandia. Meski finis di posisi juru kunci tanpa poin, mereka mencatatkan sejarah dengan mencetak gol pertama di pertandingan kompetitif saat Lee Casciaro menyamakan kedudukan melawan Skotlandia di Hampden Park. Namun, laga itu akhirnya berakhir 6-1 untuk Skotlandia. Secara total, Gibraltar kebobolan 56 gol, memecahkan rekor kebobolan terbanyak San Marino dalam 10 pertandingan.
Perjuangan untuk mendapatkan pengakuan FIFA juga berliku. Pada September 2014, aplikasi pertama mereka ditolak karena status non-negara merdeka. Namun, setelah kembali mengajukan banding ke CAS dan memenangkan putusan, Gibraltar akhirnya diterima sebagai anggota FIFA ke-211 pada 13 Mei 2016, dengan suara 172 berbanding 12. Ini membuka jalan bagi mereka untuk mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018, meski harus masuk ke grup yang sudah terbentuk, yaitu Grup H bersama Belgia, Bosnia, Yunani, Estonia, dan Siprus.
Dalam perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2018, Gibraltar finis di dasar klasemen dengan tiga gol dan 47 kebobolan. Namun, mereka mencatatkan gol pertama di ajang ini melalui Liam Walker saat melawan Yunani. Kemenangan pertama sebagai anggota FIFA akhirnya tercipta pada 25 Maret 2018, saat mengalahkan Latvia 1-0 di Victoria Stadium, kemenangan kandang perdana mereka.
Salah satu pencapaian terbesar Gibraltar terjadi di Liga Negara-Negara UEFA. Pada edisi 2018-19, mereka meraih kemenangan kompetitif pertama dengan menang 1-0 atas Armenia lewat penalti Joseph Chipolina. Kemudian, pada edisi 2020-21, mereka berhasil promosi ke Liga C setelah menjadi juara grup tak terkalahkan. Kiprah mereka di Liga C menghadirkan momen bersejarah lainnya, seperti hasil imbang 1-1 melawan Bulgaria, yang menjadi poin perdana mereka di level tersebut.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Pada 18 November 2023, Gibraltar menelan kekalahan terbesar dalam sejarah, 0-14 dari Prancis, dalam kualifikasi Euro 2024. Mereka gagal mencetak gol sepanjang kampanye dan finis dasar grup. Meski demikian, semangat juang tim tidak padam. Pada Juni 2024, mereka berhasil menahan imbang Wales 0-0 dalam laga uji coba, hasil yang memalukan bagi Wales dan menjadi akhir bagi pelatih Rob Page.
Setelah kegagalan di Liga Negara-Negara 2024-25, pelatih Julio Ribas mundur pada Februari 2025. Ia digantikan oleh Scott Wiseman sebagai pelatih sementara, dan kemudian dikonfirmasi akan tetap menangani tim untuk siklus Piala Dunia 2026. Stadion kandang mereka, Victoria Stadium, sempat tidak memenuhi standar UEFA sehingga mereka memainkan laga kandang di Estádio Algarve, Portugal. Namun, renovasi dan pembangunan fasilitas baru seperti Europa Point Stadium kini memungkinkan mereka kembali menjamu lawan di Gibraltar.
Skuad terkini Gibraltar diisi oleh pemain-pemain yang sebagian besar berkarier di liga lokal dan Inggris. Beberapa nama seperti Liam Walker, kapten tim, dan Joseph Chipolina menjadi andalan. Kebijakan rekrutmen sempat menjadi perdebatan karena banyak memanggil pemain kelahiran Inggris, tetapi pelatih-pelatih berikutnya berkomitmen mengembangkan bakat lokal. Dengan statusnya yang unik dan perjuangannya yang panjang, Gibraltar kini menjadi cerita menarik dalam sepak bola Eropa.