Isak tangis haru tidak terbendung dari raut wajah Onih, seorang warga Desa Cikawung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Selama kurang lebih 25 tahun, ia terpaksa menjalani aktivitas malam hari di rumah sederhananya hanya dengan mengandalkan penerangan redup dari sebuah lampu cempor atau lampu minyak.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, momen emosional tersebut terjadi ketika Onih diminta menyalakan saklar listrik untuk pertama kalinya. Langkah ini disaksikan langsung oleh Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, beserta para warga setempat yang ikut bersukacita menyaksikan rumah tersebut akhirnya terbebas dari kegelapan.
"Terima kasih banget sudah terang. Harapannya ke depan supaya lebih sukses, lebih luas, menjangkau yang lain-lain, diridhai Allah," ujar Onih dengan suara yang bergetar menahan air mata saat mengungkapkan rasa syukurnya kepada tim redaksi dan pihak penyelenggara program.
Menurut pengakuan Onih, keberadaan aliran listrik ini akan sangat mempermudah aktivitas sehari-harinya, terutama dalam merawat ibunya yang sudah lanjut usia. Selama ini, keterbatasan cahaya membuat kegiatan penting seperti beribadah, mengaji, hingga urusan domestik di malam hari menjadi sangat sulit dan berbahaya.
Dari pengamatan tim redaksi, bantuan yang diterima Onih merupakan bagian dari program Rumah Terang yang diinisiasi oleh BAZNAS. Program inovatif ini memanfaatkan teknologi panel surya mandiri, sehingga masyarakat kurang mampu dapat menikmati akses listrik secara gratis tanpa perlu bergantung pada jaringan kabel konvensional.
Secara keseluruhan, BAZNAS telah memasang instalasi panel surya ramah lingkungan di 103 titik wilayah Indramayu, yang mencakup 102 kepala keluarga dan satu masjid setempat. Program ini ditargetkan mampu menyasar hingga 452 kepala keluarga di tingkat nasional guna mengatasi ketimpangan akses energi.