Sebagaimana diwartakan dalam pemberitaan media, aksi nekat dilakukan oleh seorang penumpang wanita paruh baya berusia 61 tahun berinisial S di Kota Semarang. Korban yang merupakan warga Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka-luka akibat terjatuh dari ketinggian halte.
Mengutip laporan yang dihimpun di lapangan, insiden membahayakan ini terjadi di halte Balai Kota yang terletak di Jalan Pemuda, Kota Semarang, pada Jumat pagi. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial, suasana di sekitar lokasi sempat diwarnai kepanikan warga yang mengerumuni satu unit ambulans.
Menurut keterangan saksi mata di lokasi kejadian bernama Basuki, peristiwa tersebut bermula ketika korban hendak melakukan transit setelah turun dari layanan bus Trans Jateng. Korban kemudian berlari terburu-buru untuk mengejar bus Trans Semarang, namun nahas pintu kendaraan sudah terlanjur tertutup rapat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeIbunya mau turun, mau transit lagi. Lalu ibunya lari mau naik bus. Busnya tertutup, terus jatuh kepeleset, ujar Basuki saat memberikan keterangan kepada awak media di sekitar lokasi kejadian.
Berdasarkan laporan pihak pengelola, Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menjelaskan bahwa peristiwa nahas itu berlangsung sekitar pukul 06.10 WIB. Armada BRT tersebut sebenarnya sudah selesai menaikkan penumpang dan mulai berjalan dengan kondisi pintu yang menutup secara perlahan.
Tiba-tiba ada ibu-ibu berlari dari dalam halte dan langsung loncat ke dalam armada sehingga ibu tersebut terjatuh ke bawah dengan kondisi mengalami luka di bagian kaki, ungkap Haris ketika memberikan penjelasan resmi.
Menanggapi insiden tersebut, pihak manajemen Trans Semarang bersama operator langsung bergerak cepat memberikan respons darurat. Korban langsung dievakuasi dan dilarikan ke RSUP Dr Kariadi untuk mendapatkan penanganan medis intensif, sementara pihak pengelola turut mendampingi langsung di rumah sakit.
Selain pendampingan medis, manajemen juga memastikan bahwa proses klaim asuransi melalui Jasa Raharja sedang diurus untuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Hingga kini, pihak pengelola masih terus berkoordinasi dan menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama pihak keluarga korban.