Alvaro Fernandez menjelaskan alasan ilmiah mengapa sebagian orang tetap memilih tidur berselimut meski cuaca musim panas sedang tinggi. Kebiasaan ini ternyata tidak hanya sekadar faktor psikologis masa kecil semata.
Berdasarkan analisis tim redaksi, kebiasaan tersebut berakar dari rasa aman yang terbentuk sejak kecil ketika orang tua membiasakan anak tidur dengan selimut. Faktor kebiasaan ini menciptakan asosiasi kuat antara selimut dan rasa tenang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain faktor kebiasaan, tekanan ringan dari selimut terbukti merangsang pelepasan hormon serotonina. Hormon tersebut berfungsi meningkatkan rasa nyaman sekaligus membantu tubuh lebih cepat terlelap.
Mengutip laporan terkait, penggunaan selimut juga memberikan perlindungan praktis dari gangguan gigitan nyamuk malam hari. Sebagian orang bahkan sengaja menyalakan pendingin ruangan agar tetap bisa tidur dengan balutan selimut tebal.
Tim redaksi menyimpulkan bahwa kenyamanan tidur sangat dipengaruhi oleh persepsi mental individu. Kombinasi faktor psikologis dan hormonal menjadikan selimut sebagai penunjang kualitas istirahat malam.