Sebagaimana diwartakan oleh media setempat, Menteri Supremo Tribunal Federal Carmen Lucia melontarkan analogi tajam dengan membandingkan fenomena deepfake dalam kampanye pemilu dengan foto klasik mendiang presiden terpilih Tancredo Neves pada tahun 1985. Dalam catatan sejarah, foto tersebut menampilkan Tancredo yang duduk di kursi dengan dikelilingi tim medis untuk meredakan kekhawatiran publik atas kondisi kesehatannya.
Kendati demikian, kenyataan berbicara lain karena Tancredo meninggal dunia hanya beberapa pekan setelah foto tersebut diambil, sementara publik belakangan mengetahui bahwa kondisi kesehatannya kala itu jauh dari kata baik. Mengutip wawancara dalam siniar A maquina da Folha de São Paulo, Carmen Lucia menggunakan perbandingan tersebut secara tegas untuk menolak gagasan mengenai eksistensi deepfake yang dianggap aman atau memiliki dampak positif.
Meski tidak secara spesifik mengomentari kontroversi penggunaan kecerdasan buatan oleh pihak tertentu dalam kampanye politik, sang menteri menekankan bahwa teknologi manipulasi digital semacam itu berpotensi merusak esensi perdebatan publik. Berdasarkan laporan wawancara tersebut, ia juga menyoroti pentingnya penerapan kode etik yang ketat bagi para hakim agung demi menunjukkan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemanfaatan teknologi kecerdasan buatan generatif dalam kontestasi politik terus memicu diskursus panjang di tengah masyarakat, khususnya terkait ancaman disinformasi visual. Para pengamat hukum dan pemilu menilai bahwa peringatan dari tokoh peradilan tertinggi ini menjadi momentum penting untuk memperketat regulasi terhadap manipulasi media di ruang publik.