Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang memperingatkan masyarakat mengenai ancaman musim kemarau tahun ini yang terasa jauh lebih panas. Kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh fenomena yang dikenal sebagai Godzilla El Nino, di mana masa kering diperkirakan berlanjut hingga Oktober atau November mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pinrang, Rhommy Manule, mengungkapkan bahwa fenomena cuaca serupa sebenarnya pernah melanda Sulawesi Selatan pada tahun 2023 lalu. Namun, karakteristik kemarau kali ini dinilai memiliki potensi suhu udara yang jauh lebih tinggi dan lebih terik.
"El Nino itu pernah terjadi di tahun 2023 di Sulawesi Selatan, tetapi tidak sama di dalam potensi cuaca dan iklimnya. Ini lebih panas," ujar Rhommy Manule saat berbicara dalam program Dialog Kentongan di RRI Pro 1 Makassar, Selasa (21/7/2026).
Rhommy menambahkan, puncak musim kemarau sudah mulai terasa intensitasnya sejak Juli dan diprediksi bakal mulai menunjukkan penurunan pada September. Kendati demikian, periode bulan kering diperkirakan tetap bertahan dan membentang cukup panjang.
"Bulan Juli, Agustus akan menurun di September, tapi kemungkinan bulan keringnya akan panjang sampai Oktober, November," jelas Rhommy.
Berdasarkan analisis data dari Pusdalops BPBD serta pemantauan BMKG pusat dan wilayah, minimnya curah hujan bahkan berpotensi berlanjut hingga periode pergantian tahun 2026 menuju 2027. Menyikapi situasi ini, BPBD mengimbau masyarakat untuk bertindak bijak dalam mengelola pasokan air.
"Kita harapkan kepada seluruh warga masyarakat, kita himbau tolong dijaga ketersediaan sumber air baku di masing-masing rumah di lingkungannya," tutur Rhommy.
Selain ancaman krisis air bersih, fenomena kemarau panjang ini turut melonjakkan risiko bencana kebakaran pemukiman maupun lahan. Pemicu utamanya sering kali berasal dari kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok sembarangan hingga bahaya korsleting listrik.
Kondisi minimnya ketersediaan air juga bakal menyulitkan petugas dalam proses pemadaman api. Dampak kekeringan ini semakin memprihatinkan menyusul minimnya curah hujan di sepanjang daerah aliran Sungai Sadang yang membentang dari wilayah Toraja hingga Enrekang.
Guna mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem yang semakin meluas, BPBD Pinrang terus memperkuat koordinasi dengan BPBD Sulawesi Selatan serta BNPB pusat untuk menyiapkan berbagai langkah mitigasi.