Posisi penasihat politik Fernando Cerimedo dalam kasus dugaan percobaan pembunuhan terhadap mantan pasangannya, Nadia Beller, di Bolivia kian terpojok. Sebagaimana diberitakan oleh media TN, penyidik kini tengah mendalami serangkaian bukti digital berupa percakapan telepon yang diduga kuat berkaitan dengan rencana serangan tersebut.
Dalam salah satu berkas yang berhasil diakses oleh tim investigasi, ditemukan pesan bernada ancaman yang eksplisit. Bunyi pesan tersebut di antaranya adalah instruksi untuk segera melenyapkan sosok yang diduga Nadia Beller agar pihak bersangkutan tidak dalam masalah besar.
Meskipun isi percakapan tersebut kini tengah berada dalam tahap peramalan forensik untuk memastikan keaslian, pengirim, serta penerimanya, temuan ini menjadi celah hukum yang serius bagi Cerimedo. Pihak berwenang saat ini sedang membedah hipotesis bahwa insiden penembakan di Santa Cruz de la Sierra merupakan tindakan yang terencana secara matang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain pesan tersebut, terungkap pula komunikasi tegang antara Cerimedo dan Beller. Dalam sebuah balasan pesan, Cerimedo tampak panik dan berusaha memanipulasi situasi dengan ancaman menyakiti diri sendiri jika Beller nekat memublikasikan informasi tertentu yang dianggap dapat menghancurkan hidupnya.
Nadia Beller sendiri telah memberikan perlawanan verbal dalam percakapan tersebut dengan menyatakan, "No me manipulás más. Te juro que nunca más. Yo no tengo por qué cuidarte. No después de cómo sos vos conmigo", yang menegaskan bahwa dirinya tidak lagi ingin berada di bawah kendali sang mantan pasangan.
Saat ini, Fernando Cerimedo masih ditahan oleh otoritas Bolivia. Jaksa penuntut umum sedang berupaya mengonstruksi peran Cerimedo sebagai terduga aktor intelektual di balik aksi penembakan yang mengakibatkan Beller mengalami luka tembak di depan sebuah hotel.
Sementara dua eksekutor lapangan yang menyerang Beller dilaporkan masih dalam status buron. Kepolisian setempat terus melakukan pengejaran dan berusaha melacak jejak komunikasi antara para pelaku dengan Cerimedo sebelum insiden berdarah itu terjadi.
Kasus ini tidak hanya menyita perhatian publik karena dugaan tindak pidana berat, tetapi juga memicu gejolak politik. Pemerintah Bolivia sendiri sempat menyatakan bahwa meskipun Cerimedo pernah terlibat dalam proyek komunikasi digital, ia tidak memegang jabatan formal dalam pemerintahan.
Proses hukum diperkirakan masih akan berlanjut panjang seiring dengan pengumpulan bukti-bukti tambahan dari perangkat elektronik yang disita. Cerimedo sendiri dikabarkan sempat menangis saat menjalani pemeriksaan, dengan alasan ingin segera bertemu dengan anak-anaknya.