Dunia penelitian dan akademisi terus berkembang seiring dengan lahirnya berbagai perspektif kritis yang mempertanyakan kemapanan metode tradisional. Salah satu pendekatan yang signifikan dalam studi sosial dan ilmiah adalah feminist method, sebuah kerangka investigasi untuk menghasilkan teori dari sudut pandang feminis yang eksplisit.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Metodologi feminis ini memiliki beragam bentuk, namun umumnya berbagi tujuan yang sama, yakni mengatasi bias dalam penelitian, mendorong perubahan sosial, menampilkan keragaman manusia, serta mengakui posisi peneliti. Pendekatan ini juga secara aktif mempertanyakan cara penalaran ilmiah konvensional yang kerap dianggap netral padahal menyimpan asumsi tersembunyi.
Sejumlah tokoh terkemuka seperti Nancy Hartsock, Hilary Rose, dan Sandra Harding turut memelopori perkembangan pemikiran ini. Para sosiolog feminis melancarkan kritik tajam terhadap positivisme dan metode kuantitatif tradisional yang kerap memperlakukan subjek penelitian secara objektif-dingin tanpa memperhitungkan agensi kemanusiaan mereka.
Kritik tersebut berakar dari keprihatinan bahwa pengetahuan akademik maupun populer selama ini kerap berpusat pada pengalaman hidup dan cara berpikir laki-laki semata. Dorothy Smith bahkan pernah menyatakan bahwa sosiologi secara historis dibangun di dalam semesta sosial laki-laki, sehingga mengabaikan realitas kaum perempuan dan kelompok marjinal lainnya.
Melalui pendekatan ini, para cendekiawan berupaya membongkar asumsi imperialis, rasis, dan patriarki yang kerap mendasari penelitian konvensional. Mereka menunjukkan bahwa konsep objektivitas dalam sains sering kali hanya menjadi kedok bagi perspektif kelompok dominan tertentu, sementara peneliti feminis justru menuntut keterbukaan identitas dan kepentingan sang peneliti.
Selain itu, pembaruan dalam metode ini juga mencakup rekonstruksi hubungan antara peneliti dan subjek agar tidak lagi menempatkan manusia lain sebagai objek pasif. Shulamit Reinharz menekankan pentingnya pelibatan aktif antara peneliti, pembaca, dan komunitas yang diteliti guna mendemistifikasi serta mendekolonisasi proses riset dari bias budaya.
Kritik terhadap sains konvensional turut merambah ranah biologi dan psikologi, seperti gagasan Anne Fausto-Sterling yang mempertanyakan konstruksi biner biologis tradisional melalui pemetaan perkembangan biologis manusia yang lebih kompleks. Di sisi lain, Alison Jaggar juga menggugat dikotomi antara nalar dan emosi, dengan argumen bahwa emosi memegang peran krusial yang setara dengan rasionalitas dalam proses pengambilan keputusan.