Penerapan standar dosis obat kanker yang ditetapkan oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat atau FDA menuai sorotan dari kalangan pasien serta peneliti kesehatan global. Sejumlah ahli dan pasien menilai bahwa aturan dosis yang berlaku saat ini sering kali terlalu tinggi dan memicu efek samping berat yang merugikan pasien secara fisik maupun finansial.
"Tidak ada yang bisa memastikan apakah durasi satu tahun adalah dosis yang optimal," ujar ekonom asal Northwestern University sekaligus pasien kanker, Chuck Manski, dalam sebuah wawancara.
Manski mengambil keputusan mandiri untuk menghentikan pengobatan imunoterapi nivolumab setelah enam bulan pada tahun 2022. Langkah tersebut ia ambil karena obat tersebut telah merusak kelenjar tiroidnya serta menyebabkan kekeringan parah pada mata, bibir, dan mulutnya, meskipun ia sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kanker.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerbagai studi independen menunjukkan bahwa penggunaan dosis yang lebih rendah atau durasi yang lebih singkat dari obat-obatan seperti nivolumab dan pembrolizumab tetap memberikan dampak signifikan terhadap beberapa jenis kanker. Di India, para onkolog bahkan menemukan bahwa seperdua belas dari dosis standar yang dianjurkan tetap memiliki efektivitas yang kuat pada pasien.
Tantangan Finansial dan Minimnya Studi Lanjutan
Tingginya harga obat kanker menjadi beban berat bagi pasien di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat di mana sekitar 30 persen resep obat kanker dilaporkan tidak diambil karena terkendala biaya. Di sisi lain, perusahaan farmasi dan fasilitas kesehatan dinilai memiliki sedikit insentif untuk melakukan studi optimasi dosis karena penjualan obat dengan dosis standar memberikan keuntungan finansial yang sangat besar.
Sebuah studi memperkirakan bahwa sistem kesehatan di Amerika Serikat dapat menghemat sekitar 31 miliar dolar AS pada tahun 2024 seandainya dosis minimum yang diperlukan benar-benar diterapkan. Keuntungan finansial dari penjualan obat imunoterapi ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan rumah sakit dan tenaga medis dalam program subsidi tertentu.
Kendati demikian, beberapa dokter onkologi mulai mengambil langkah berani dengan meresepkan dosis yang lebih rendah kepada pasien demi menghindari efek samping yang membahayakan nyawa. Praktik penyesuaian dosis ini kerap menghadapi tantangan dari perusahaan asuransi yang menetapkan ketentuan berdasarkan standar dosis label pabrik.
Upaya penelitian independen untuk menguji efektivitas dosis rendah terus berjalan di berbagai belahan dunia guna mencari keseimbangan antara efektivitas pengobatan dan kualitas hidup pasien. Para ahli berharap protokol medis di masa depan lebih berfokus pada kebutuhan pasien secara menyeluruh tanpa mengorbankan efektivitas terapi.