Evakuasi medis darurat warga Amerika dari pangkalan McMurdo di Antartika menuju rumah sakit Selandia Baru berhasil dilakukan dalam operasi penyelamatan langka di tengah musim dingin ekstrem. Berdasarkan laporan yang dihimpun, pesawat terbang diberangkatkan dari kota Hobart di Australia menuju benua es tersebut pada tanggal 31 Juli lalu guna merespons permintaan bantuan mendesak.
Penerbangan tersebut mendarat di Phoenix Airfield dekat McMurdo setelah menempuh perjalanan selama lima jam setengah dalam kondisi gelap gulita serta suhu udara mencapai minus 43 derajat Celsius. Pengamatan redaksi menunjukkan bahwa misi berbahaya ini menuntut kemampuan navigasi tingkat tinggi karena awak pesawat harus beroperasi di ambang batas operasional mesin pesawat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Kami mendapati kondisi yang dinamakan senja bahari, yaitu cahaya sangat minim dan nyaris gelap gulita beserta suhu luar biasa dingin," ujar kopilot misi Louise Robertson. Ia menambahkan bahwa suhu ekstrem tersebut menjadi pengalaman terdingin dirasakannya selama bertugas, ditambah tiupan angin kencang memperparah rasa dingin.
Berdasarkan informasi dari pihak terkait, pasien segera diterbangkan menuju rumah sakit di Christchurch pada hari yang sama sebelum kondisi cuaca di landasan pacu Antartika memburuk secara drastis. Penyelamatan semacam ini tergolong sangat langka karena jendela waktu pendaratan dalam kegelapan total dan suhu ekstrem sangat terbatas, bahkan hampir belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari analisis awak media, wilayah kutub selatan saat ini memang tengah berada dalam periode malam kutub tanpa sinar matahari hingga bulan September mendatang. Kendati demikian, prosedur darurat tetap mampu dijalankan secara presisi berkat koordinasi matang lintas negara antara Australia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.