Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Fakta Menarik Pemulihan Bromo,...
BERITA

Fakta Menarik Pemulihan Bromo, Mengapa Tak Cukup Tanam Pohon

By Anisa Cahyati 2 min read 20 Agustus 2026
Pemulihan ekosistem di kawasan Bromo pascakebakaran memerlukan strategi tepat dan tidak bisa sekadar menanam pohon massal

Pemulihan ekosistem di kawasan Bromo pascakebakaran memerlukan strategi tepat dan tidak bisa sekadar menanam pohon massal

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur tidak hanya mengganggu aktivitas wisata para pengunjung. Api yang meluas di tengah vegetasi kering serta medan yang sulit dijangkau juga berpotensi mengubah kondisi ekologis kawasan secara signifikan.

Berdasarkan laporan media, akses wisata bahkan sempat ditutup sementara untuk membantu proses pemadaman api di lapangan. Hilangnya sebagian biomassa akibat kebakaran merupakan konsekuensi ekologis yang sulit dihindari dalam situasi darurat tersebut.

Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof. Endah Sulistyawati, menyatakan bahwa penanganan pascakebakaran perlu mempertimbangkan karakter ekosistem yang terdampak. Menurutnya, memahami karakteristik api dan ekosistem menjadi langkah penting untuk menentukan respons pemulihan.

Dalam ekologi, kebakaran terjadi ketika tiga unsur tersedia bersamaan, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di kawasan Bromo, bahan bakar utama berasal dari biomassa permukaan tanah seperti daun dan rumput kering saat musim kemarau.

Prof. Endah menjelaskan bahwa savana memang memiliki biomassa yang lebih sedikit dibandingkan hutan lebat, namun keterbukaannya membuat angin dan panas mempercepat penyebaran api. Oleh karena itu, karakteristik lanskap harus menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan ke depan.

Selain tumbuhan, kebakaran juga memberikan dampak langsung terhadap satwa liar yang kehilangan tempat berlindung. Tumbuhan tidak bisa menghindari api, sementara satwa yang melarikan diri membutuhkan ruang aman agar tidak masuk ke permukiman warga.

Kendati demikian, ekosistem memiliki daya lenting atau resiliensi alami untuk memulihkan diri tanpa intervensi manusia yang berlebihan. Turunnya air hujan dapat membantu benih rumput yang tersimpan di dalam tanah untuk kembali tumbuh secara mandiri.

Prof. Endah mengingatkan agar pengelola kawasan tidak terburu-buru melakukan penanaman pohon secara massal. Intervensi yang salah dengan menanam pohon berkayu di area savana justru berpotensi mengubah karakteristik ekosistem asli kawasan tersebut.

Sebelum menentukan bentuk pemulihan, asesmen menggunakan teknologi satelit sangat diperlukan untuk memetakan luas area terdampak dan kondisi hidrologi. Hal ini penting guna mengantisipasi risiko lanjutan seperti erosi tanah dan gangguan tata air saat musim hujan tiba.

Sebagaimana diwartakan, pengawasan terhadap aktivitas pengunjung juga harus diperketat untuk mencegah kembali terjadinya percikan api di musim kemarau. Pemulihan kawasan pada akhirnya bukan sekadar menghijaukan kembali, melainkan mengembalikan fungsi ekosistem sesuai karakternya.

Topics
kebakaran bromo tnbts pemulihan ekosistem savana itb lingkungan hidup restorasi krisis iklim
Jurnalis Gaya Hidup & Budaya

Anisa Cahyati adalah jurnalis yang mengabdikan dirinya pada dunia gaya hidup, musik, dan budaya. Ia percaya bahwa seni dan budaya adalah cermin masyarakat, dan melalui tulisannya ia ingin menghadirkan cerita-cerita inspiratif dari para musisi, seniman, dan pelaku budaya. Liputannya selalu segar, humanis, dan dekat dengan keseharian pembaca.