Mengutip laporan media acehkini.id, tepat pada 24 Januari 1874 silam, pasukan kolonial Belanda di bawah komando Jenderal Van Swieten berhasil menguasai Istana Darud Donya yang menjadi pusat Kesultanan Aceh. Keberhasilan tersebut dicapai setelah Belanda melancarkan agresi militer kedua usai kegagalan mereka pada tahun sebelumnya.
Sebagaimana diwartakan dalam catatan sejarah, agresi pertama Belanda pada April 1873 berakhir dengan kekalahan telak dan kematian pemimpin perang mereka, Mayor Jenderal JHR Kohler, di dekat Masjid Raya Baiturrahman. Peristiwa memalukan itu mendorong Pemerintah Hindia Belanda di Batavia mengerahkan kekuatan yang jauh lebih besar.
Berdasarkan laporan sejarah, kekuatan sekitar 13.000 prajurit diberangkatkan ke Aceh di tengah terjangan wabah kolera. Setelah berhasil mendarat di kawasan rawa Peunayong pada Desember 1873, pasukan kolonial langsung menjadikan Masjid Raya Baiturrahman dan Istana Darud Donya sebagai target utama penaklukan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun Masjid Raya Baiturrahman jatuh dalam kondisi terbakar akibat pertempuran hebat pada Januari 1874, para pejuang Aceh terus memberikan perlawanan sengit. Kendati demikian, Istana Darud Donya akhirnya berhasil dikuasai pasukan Van Swieten dalam keadaan kosong setelah ditinggalkan oleh Sultan Alauddin Mahmudsyah beserta keluarga dan pengawalnya.
Dikutip dari catatan buku karya Paul van’t Veer berjudul De Aceh-oorlog, keberhasilan merebut istana tersebut disambut meriah oleh pihak Belanda melalui pesta pora di lokasi kejadian. Di sisi lain, perjuangan rakyat Aceh tidak padam begitu saja, karena perlawanan terhadap pendudukan kolonial terus berkobar hingga kedatangan Jepang pada Maret 1942.