Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini kembali menyadarkan masyarakat Indonesia akan kerentanan geografis negeri ini. Peristiwa tersebut menjadi pengingat tegas bahwa ancaman kegempaan di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurut Dosen Seismologi Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kadek Hendrawan Palgunadi, posisi Indonesia yang berada di jalur tektonik aktif memang menuntut kewaspadaan tinggi. "Indonesia secara kondisi geografis memang aktif secara tektonik, sehingga kemungkinan terjadinya bencana kegempaan semakin banyak. Jadi kewaspadaan kita memang harus ditingkatkan," ujarnya dikutip dari laporan RRI Surabaya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Kadek menekankan bahwa mitigasi tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik yang memerlukan biaya besar, seperti struktur bangunan tahan gempa. Diperlukan pendekatan komprehensif yang mencakup sistem monitoring yang akurat, pemetaan wilayah rawan, hingga edukasi kebencanaan yang masif kepada masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam catatannya, penguatan pemantauan seismik dan mikrozonasi menjadi kebutuhan mendesak. Mikrozonasi berfungsi memetakan karakteristik tanah guna memprediksi potensi guncangan di suatu area. Langkah ini dinilai sangat krusial agar pemerintah dan masyarakat bisa lebih presisi dalam menentukan kesiapsiagaan.
Selain NTT, Kadek juga menyoroti ancaman nyata di wilayah lain seperti Jawa Timur dan Madura yang dikelilingi sesar aktif, termasuk Sesar Kendeng serta Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala. Mengutip data BMKG, ia menekankan pentingnya penerapan tata ruang berbasis peta rawan bencana.
Meskipun gempa hingga kini belum bisa diprediksi secara pasti, Kadek menegaskan bahwa ketidaktahuan kapan bencana akan terjadi justru harus memicu masyarakat untuk menjadi lebih tanggap. "Yang penting dari kejadian seperti ini adalah bagaimana kita kemudian menjadi lebih aware, lebih siap. Karena kita tahu Indonesia ini memang wilayah yang aktif secara tektonik," pungkasnya.
Pihaknya bersama akademisi lain terus berupaya melakukan edukasi intensif. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko dan dampak kerusakan saat bencana benar-benar terjadi di masa depan.