Fenomena quarter life crisis semakin marak dialami generasi muda, khususnya mereka yang berada pada rentang usia 20 hingga 29 tahun. Masa transisi menuju dunia kerja, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan kerap menjadi pemicu utama kondisi psikologis ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Selatan, Zoya Zurafa, M.Psi., Psikolog. Menurutnya, fase ini membuat seseorang mulai mempertanyakan arah dan tujuan hidup, pilihan karier, hingga kondisi finansial.
Meski bukan merupakan kategori gangguan jiwa, quarter life crisis tetap tidak boleh diabaikan begitu saja. Jika tidak ditangani secara bijak, kondisi ini berpotensi memicu stres berkepanjangan, kecemasan berlebih, hingga penurunan rasa percaya diri pada anak muda.
"Usia 20-an merupakan periode penting dalam pembentukan identitas dan penentuan arah masa depan," ujar Zoya Zurafa. "Munculnya kebingungan atau keraguan pada fase tersebut merupakan hal yang wajar."
Ia menambahkan bahwa maraknya penggunaan media sosial turut memperparah dampak fase ini. Banyak anak muda terjebak dalam perangkap membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial tanpa memahami perjuangan di balik proses tersebut.
Guna mengatasi hal ini, generasi muda disarankan untuk lebih fokus mengenali potensi diri, membatasi konsumsi media sosial, serta menetapkan target hidup yang realistis. Dukungan dari lingkungan terdekat hingga tenaga profesional juga sangat dibutuhkan jika tekanan emosional terasa kian berat.