Pergeseran budaya dalam mencari pemahaman keagamaan kini tengah terjadi secara masif di Indonesia. Jika dahulu umat Islam menimba ilmu agama secara langsung dari kiai di masjid, kini fenomena tersebut perlahan bergeser ke layar gawai yang dikendalikan oleh algoritma media sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan We Are Social, pengguna internet di Indonesia kini telah menembus lebih dari 220 juta orang dengan durasi penggunaan media sosial rata-rata melebihi tiga jam per hari. Ruang digital pun secara otomatis bertransformasi menjadi panggung baru bagi penyebaran konten dakwah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, menyoroti perubahan demografi audiens yang kini didominasi oleh kelompok anak muda. Menurutnya, kesenjangan antara generasi tua yang merupakan imigran digital dan anak muda sebagai "digital native" menjadi tantangan besar.
"Mereka adalah anak muda, Generasi X, milenial, Z, hingga Generasi Alpha. Mereka semuanya digital native, sementara kami kelompok tua yang imigran digital. Gap ini harus diatasi," ungkap KH Masduki Baidlowi.
Perubahan ini berdampak signifikan pada sumber rujukan keagamaan masyarakat. Data survei terbaru mengindikasikan bahwa lebih dari 60 persen populasi Indonesia, terutama generasi muda, kini memperoleh pemahaman keagamaan dari ruang digital ketimbang lembaga keagamaan resmi atau otoritatif.
MUI mengingatkan bahaya tersembunyi dari tren belajar agama secara instan melalui platform digital. Ketergantungan pada sistem rekomendasi mesin pencari dan media sosial dinilai sangat berisiko mengikis pemahaman agama yang utuh dan mendalam.
"Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian atau media sosial. Ini fenomena baru yang berpotensi berbahaya karena algoritma itu alat yang tekstual, memotong ayat tanpa konteks," tegas Masduki.