Sebagaimana diwartakan oleh media nasional, sejumlah pengungsi korban gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, merasakan ketimpangan dalam pendistribusian logistik. Warga yang terpaksa mendirikan tenda secara mandiri mengaku kerap terlewat ketika bantuan kemanusiaan disalurkan.
Berdasarkan laporan di lapangan, kondisi tersebut membuat para pengungsi kesulitan mencukupi kebutuhan dasar sehari-hari meskipun mereka berada di kawasan pengungsian terpusat yang didirikan pemerintah. Salah satu warga bernama Nurbiyati mengungkapkan bahwa keluarganya tidak mendapatkan fasilitas dasar seperti tenda, selimut, maupun tikar.
Mengutip keluhan pengungsi tersebut, mereka harus merogoh kocek sendiri untuk membeli terpal dan bambu demi membangun tempat perlindungan darurat setelah rumah mereka hancur akibat gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. Selain tempat tinggal, pasokan logistik seperti susu bayi, popok, serta obat-obatan juga sangat minim.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeWarga berharap agar pihak berwenang dapat lebih peka dan menyalurkan bantuan secara merata langsung ke titik-titik tenda mandiri. Sebab, alasan keterbatasan persediaan yang sering disampaikan petugas membuat para pengungsi mandiri terus tertinggal dalam menerima hak bantuan mereka.