Penyakit kanker hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Banyak individu dan keluarga yang harus menghadapi perubahan hidup secara drastis akibat dampak penyakit ini. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, penanggulangan kanker tidak bisa hanya mengandalkan sektor medis, melainkan membutuhkan kepedulian sosial, edukasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Cabang Kulon Progo yang baru, Nur Aini Mufida. Pernyataan ini disampaikan usai dirinya resmi dikukuhkan bersama jajaran Pengurus YKI Wilayah Kulon Progo Masa Bakti 2026–2031. Dari pantauan redaksi, acara pengukuhan dan serah terima jabatan tersebut berlangsung khidmat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kulon Progo pada Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut Nur Aini Mufida, momentum serah terima jabatan ini bukan sekadar seremoni belaka. "Momentum ini bukan sekadar seremoni. Ini awal pengabdian bersama untuk terus hadir mendampingi masyarakat, terutama dalam upaya promotif, preventif, dan bagi mereka yang sedang berjuang melawan kanker," ujarnya menjelaskan arah pergerakan organisasi ke depan.
Untuk menjawab tantangan besar tersebut, Nur Aini memaparkan lima program prioritas yang akan dijalankan oleh kepengurusan YKI Kulon Progo periode 2026–2031. Kelima program strategis ini meliputi Memperkuat Edukasi, Memperluas Deteksi Dini, Pendampingan Holistik, Memperluas Kemitraan, serta mewujudkan Tata Kelola Profesional.
Nur Aini juga menambahkan bahwa keberhasilan kepengurusan YKI akan diukur dari dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat luas. "Keberhasilan kita diukur dari makin banyak warga yang paham deteksi dini. Bukan dari seremoni, tapi dari makin banyak pasien yang mendapat harapan," tutur Ketua YKI Kulon Progo tersebut.
Sementara itu, Perwakilan YKI DIY, Dr. Dra. I.M. Sunarsih Sutaryo, mengungkapkan fakta di lapangan bahwa masih banyak pasien yang datang dalam kondisi terlambat atau terpaksa tidak menuntaskan pengobatan. Kendala utama yang sering dihadapi adalah masalah biaya serta persoalan psikososial, sehingga pendekatan suportif yang menyentuh seluruh aspek kehidupan pasien sangat diperlukan.
Menurut Sunarsih, pengobatan kanker harus dilakukan secara menyeluruh terhadap kondisi pasien. "Obati orangnya, jangan hanya penyakitnya. Pasien butuh pendampingan fisik, psikologi, spiritual, dan sosial agar mau tuntas berobat," ungkapnya. YKI DIY sendiri siap memberikan dukungan penuh bagi pasien asal Kulon Progo, salah satunya melalui fasilitas rumah singgah berkapasitas 36 pasien anak dan dewasa, serta sokongan dari 50 relawan terlatih yang mayoritas merupakan penyintas.
Merespons hal tersebut, Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Namun, penyelesaian tantangan kesehatan seperti kanker memerlukan sinergi lintas sektor. "Pemkab Kulon Progo berkomitmen mendukung peningkatan derajat kesehatan dengan gotong royong semua pihak," pungkas Agung Setyawan.