Proyek PRECOG dari University of Southern California tengah meneliti potensi sinyal biologis tubuh untuk mendeteksi depresi secara lebih akurat. Penilaian kesehatan mental biasanya hanya mengandalkan wawancara verbal, namun pendekatan baru ini memadukan kecerdasan buatan dengan respons fisik yang sulit dikendalikan secara sadar.
Mengutip laporan terkait riset tersebut, tim ilmuwan merekam aktivitas otak menggunakan EEG, pergerakan mata melalui kamera pelacak, serta perubahan kelenjar keringat pada partisipan saat membaca pernyataan bermuatan emosional. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan pola biologis yang signifikan antara orang sehat, penderita depresi, serta individu mengalami pemikiran bunuh diri.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News dari data riset, respons gelombang otak partisipan menunjukkan perbedaan timing saat memproses kata-kata negatif. Selain itu, pola tatapan mata kelompok yang mengalami risiko bunuh diri cenderung lebih terpencar dibandingkan partisipan sehat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun menunjukkan hasil menjanjikan, para peneliti menegaskan teknologi ini bukan alat pembaca pikiran atau pengganti diagnosis klinis manusia. Penilaian klinis tetap memegang peran utama karena faktor risiko bunuh diri sangat dinamis dan dipengaruhi oleh situasi sosial serta kondisi emosional pasien.
Riset komprehensif tersebut telah dipublikasikan ke dalam berbagai jurnal ilmiah seperti npj Digital Medicine dan Journal of Affective Disorders. Ke depannya, teknologi sensor biologis ini diharapkan mampu menjadi pendukung medis untuk membantu tenaga kesehatan mengenali gejala gangguan mental lebih dini.