Dua puluh delapan tahun berlalu, bayang-bayang kelam Tragedi Mei 1998 yang penuh dengan amarah dan ketidakpastian politik masih menyisakan duka mendalam. Berdasarkan laporan media, hingga kini masih banyak nasib korban, khususnya perempuan, yang tidak tercatat dengan baik dalam sejarah, termasuk kisah tragis Ita Martadinata yang meninggal dunia saat hendak bersaksi di hadapan PBB.
Mengutip laporan yang dihimpun, kekecewaan atas lambannya penegakan keadilan serta berbagai penyangkalan dari pihak berwenang mendorong lintas generasi untuk terus menyuarakan kebenaran. Semangat dan desakan menuntut keadilan tersebut kini diabadikan melalui sebuah karya seni berupa perilisan single terbaru.
Sebagaimana diwartakan, grup musik Usman and The Blackstones merilis lagu berjudul Woman sebagai bentuk penghormatan mendalam kepada para korban kekerasan seksual dan kerusuhan massal Mei 1998. Vokalis Usman Hamid menyatakan bahwa karya ini dibuat karena terlalu banyak kisah perempuan pejuang keadilan yang dilewatkan begitu saja oleh sejarah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam proses kreatifnya yang memakan waktu hingga satu tahun, Usman melakukan riset langsung dan meminta restu dari keluarga korban, termasuk ibunda mendiang Ita Martadinata. Lewat perpaduan musik folk, gesekan cello, serta vokal yang kuat, lagu ini diharapkan mampu menjadi refleksi agar sejarah kelam serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan.