Di era digital saat ini, keamanan data menjadi salah satu aspek krusial yang harus dijaga oleh setiap pengguna internet. Salah satu ancaman siber yang paling berbahaya dan sering mengintai adalah serangan Man-in-the-Middle atau yang biasa dikenal sebagai MITM attack.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan definisi keamanan komputer, serangan ini terjadi ketika pihak ketiga secara diam-diam menyadap, meneruskan, atau bahkan mengubah komunikasi antara dua pihak yang merasa sedang berinteraksi secara privat dan langsung. Korban seringkali tidak menyadari bahwa seluruh percakapan mereka telah dikendalikan oleh pelaku.
Modus operandi yang umum digunakan dalam serangan ini adalah active eavesdropping atau penyadapan aktif. Pelaku membuat koneksi independen dengan para korban dan bertindak sebagai jembatan komunikasi palsu, yang sering kali memanfaatkan jaringan Wi-Fi publik tanpa enkripsi.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, para ahli keamanan siber mengandalkan berbagai protokol enkripsi seperti Transport Layer Security (TLS) serta sistem autentikasi yang kuat. Penggunaan sertifikat digital dari Certificate Authority juga membantu memastikan bahwa komunikasi dilakukan dengan pihak yang benar-benar sah dan terpercaya.
Selain autentikasi, deteksi terhadap anomali latensi jaringan serta penerapan teknologi seperti DNSSEC dan Certificate Transparency turut menjadi benteng pertahanan penting dalam mendeteksi dan mencegah terjadinya penyadapan data di dunia maya.