Dunia akademik global tentu tidak asing lagi dengan Social Science Research Network atau yang kini lebih dikenal sebagai SSRN. Platform repositori riset open access ini telah lama menjadi andalan para akademisi untuk membagikan draf awal penelitian atau preprint mereka sebelum diterbitkan secara resmi dalam jurnal ilmiah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Didirikan pada tahun 1994 oleh dua ekonom keuangan terkemuka, Michael C. Jensen dan Wayne Marr, platform ini awalnya berfokus pada ilmu sosial. Seiring berjalannya waktu, cakupannya kian meluas hingga mencakup humaniora, ilmu Hayati, hukum, bisnis, teknik, hingga ilmu kesehatan, yang kemudian mendorong perubahan nama menjadi SSRN saja.
Sebagai perpustakaan elektronik sekaligus mesin pencari, SSRN memungkinkan para peneliti untuk mengunggah naskah mereka dalam format PDF agar bisa diunduh oleh akademisi lain di berbagai belahan dunia. "Platform ini memfasilitasi diseminasi penelitian ilmiah dengan cepat dan efisien," ungkap para pengamat dunia pendidikan tinggi.
Perkembangan platform ini kian pesat hingga pada Januari 2013 sempat dinobatkan sebagai repositori akses terbuka terbesar di dunia berdasarkan jumlah file PDF, backlink, dan hasil pencarian Google Scholar. Kesuksesan ini pula yang menarik minat perusahaan penerbitan global Elsevier untuk mengakuisisi SSRN dari Social Science Electronic Publishing Inc. pada Mei 2016.
Meski demikian, perjalanan SSRN tidak lepas dari berbagai dinamika, termasuk isu hak cipta dan aturan pengunduhan yang memerlukan registrasi atau verifikasi reCAPTCHA bagi penggunanya. Kendati demikian, SSRN tetap menjadi barometer popularitas informal bagi para peneliti melalui sistem pemeringkatan jumlah unduhan naskah mereka di ranah global.