Pelatih Argentina Lionel Scaloni memberikan apresiasi tinggi kepada mentalitas pantang menyerah anak asuhnya setelah kembali mencatatkan kemenangan comeback dramatis. Hasil gemilang atas Inggris ini sukses membawa tim Tango melangkah mantap ke babak final Piala Dunia 2026.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Scaloni mengungkapkan bahwa armada Albiceleste langsung mengendus peluang kemenangan ketika Inggris mulai bermain bertahan setelah sempat unggul 1-0 terlebih dahulu dalam laga semifinal yang berlangsung sengit di Atlanta. Argentina kemudian tampil menyerang habis-habisan demi mengamankan kemenangan krusial dengan skor akhir 2-1.
"Saya menilai tim ini justru menunjukkan performa terbaiknya saat berada dalam situasi sulit dan menghadapi tekanan besar," ujar Lionel Scaloni. Dirinya menambahkan bahwa skuadnya melihat celah kelemahan lawan dan langsung memanfaatkannya dengan agresif untuk membalikkan keadaan.
Meski sempat berkali-kali digagalkan tiang gawang, Scaloni mengaku sangat puas dengan daya juang para pemainnya. Menurut juru taktik berkebangsaan Argentina tersebut, para pemain terus bertarung hingga peluit panjang dibunyikan untuk menciptakan setidaknya enam hingga tujuh peluang emas di depan gawang lawan.
Ketika ditanya mengenai bagaimana dirinya menggambarkan kemenangan luar biasa pada laga semifinal tersebut, Scaloni dengan bangga menyebut pencapaian fantastis ini sebagai epik kuadrat. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Argentina menantang juara Eropa, Spanyol, di partai final yang akan digelar di New Jersey.
Lebih lanjut, pelatih yang sukses mempersembahkan gelar juara Copa America serta Piala Dunia 2022 ini menegaskan bahwa keberhasilan timnya merupakan buah dari kerja keras kolektif. Scaloni menyebut kebersamaan erat layaknya persaudaraan di dalam skuad menjadi kunci utama kekuatan magis Argentina.
Kini Lionel Scaloni berpeluang emas membawa raksasa Amerika Selatan itu mencatatkan sejarah baru dengan meraih empat gelar turnamen mayor secara beruntun. Menjelang laga puncak, pelatih berusia 48 tahun tersebut mengaku sama sekali tidak khawatir karena memahami betul bahwa para pemainnya tidak memiliki rasa takut sedikit pun.