Pemain pengganti andalan tim nasional Spanyol, Mikel Merino, mengakui bahwa meredam pergerakan Lionel Messi akan menjadi sebuah tantangan yang sangat besar. Meski begitu, La Roja menegaskan kesiapan penuh menjelang laga puncak Piala Dunia 2026 menghadapi Argentina.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →"Ini adalah tantangan yang sangat besar, sekaligus motivasi yang luar biasa bagi saya dan seluruh tim," ujar Merino dalam sesi konferensi pers menjelang pertandingan sengit tersebut.
Kapten Argentina, Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun, tetap menjadi sosok sentral dalam membawa sang juara bertahan melangkah ke partai final di East Rutherford. Messi sukses mengarsiteki kemenangan 2-1 atas Inggris di babak semifinal melalui sumbangan dua assist berharga.
Tak hanya itu, Messi juga menjadi top skor sementara turnamen dengan torehan delapan gol. Sang megabintang sebelumnya juga menginspirasi kebangkitan dramatis Albiceleste saat tertinggal 2-0 dari Mesir di babak 16 besar, sebelum akhirnya membalikkan kedudukan menjadi 3-2 dalam waktu 11 menit tersisa.
Di kubu seberang, Merino juga memiliki peran yang tidak kalah krusial bagi Spanyol. Penggawa Arsenal ini kerap menjadi pahlawan dari bangku cadangan lewat gol-gol penentu di menit akhir, termasuk saat mendepak Portugal di babak 16 besar dan menumbangkan Belgia di perempat final.
"Saya memiliki kepercayaan diri yang luar biasa terhadap kemampuan diri sendiri. Setiap kali melangkah ke lapangan, saya percaya bisa memberikan dampak positif bagi tim," kata Merino menambahkan.
Pemain berusia 30 tahun itu juga menekankan bahwa kepentingan tim jauh di atas pencapaian individu. Menurutnya, siapapun yang menjadi pahlawan di lapangan tidaklah penting, selama Spanyol berhasil keluar sebagai juara dunia.
"Namun jujur saja, tidak peduli siapa yang menjadi pahlawan, hal terpenting adalah tim meraih kemenangan pada akhirnya. Ketika Anda memenangkan sebuah gelar juara, itu adalah milik semua orang, bukan hanya untuk 11 pemain pertama yang turun sebagai starter," tutur Merino.
Selain membahas kekuatan lawan, Merino turut memuji talenta luar biasa yang dimiliki rekan setimnya yang baru berusia 19 tahun, Lamine Yamal. Laga final ini akan menjadi momen perdana Lamine Yamal berhadapan langsung dengan Messi, sebuah duel yang merepresentasikan masa lalu dan masa depan FC Barcelona.
Merino memprediksi pertandingan final akan berjalan dengan tensi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ia menilai ketegasan wasit dalam mengontrol intensitas pelanggaran di lapangan akan sangat krusial bagi jalannya laga.
"Semakin cepat bola mengalir di antara kaki kami, maka semakin sedikit pula waktu yang dimiliki tim lawan untuk melakukan pelanggaran," ungkap mantan pemain Real Sociedad tersebut.
Merino yang mengaku tidak memiliki memori yang terlalu jelas saat Spanyol menjuarai Piala Dunia pertama mereka pada tahun 2010 silam, kini merasa bangga bisa berada di posisi yang sama untuk menginspirasi generasi muda.
"Bisa mewakili negara kami hari ini dan menjadi sosok pemain yang sama bagi generasi baru, terutama untuk anak-anak yang menonton kami, adalah sesuatu yang sangat magis," pungkas Merino.