Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China kini merambat ke industri otomotif Jerman. Mercedes-Benz, yang dua pemegang saham terbesarnya berasal dari Negeri Tirai Bambu, terancam terkena imbas kebijakan Washington yang hendak memperketat aturan bagi produsen otomotif China.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Komite Perdagangan Senat AS pekan lalu menyetujui rancangan undang-undang yang memperkuat larangan bagi pabrikan China masuk ke pasar AS. Aturan ini secara teoritis bisa menghalangi Mercedes menjual kendaraannya di Negeri Paman Sam, mengingat dua pemegang saham terbesarnya adalah perusahaan China.
Menghadapi ancaman tersebut, CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius angkat bicara. Dalam konferensi pers rilis hasil keuangan kuartal kedua, ia menegaskan komitmen perusahaannya untuk tetap bertahan di pasar AS. "Jika kami perlu melakukan penyesuaian untuk mematuhi apa pun, kami akan memastikan bahwa kami melindungi kehadiran dan bisnis kami di AS," ujarnya tegas.
Kaellenius mengaku tidak naif terhadap dinamika geopolitik yang memanas antara AS dan China. Ia menyebutkan pihaknya terus memantau perkembangan aturan di Washington dan terlibat aktif dalam diskusi dengan pemangku kepentingan terkait. Pasalnya, BAIC Group dan pendiri Geely, Li Shufu, secara kolektif menggenggam hampir 20 persen saham Mercedes yang tercatat di bursa.
Di tengah tekanan itu, strategi Mercedes justru menunjukkan ekspansi agresif di AS. Penjualan di Negeri Paman Sam tumbuh 15 persen pada paruh pertama tahun ini, menjadi penyelamat di saat pasar China lesu akibat perang harga dan pergeseran ke mobil listrik (EV) yang dikuasai merek lokal. Di AS, permintaan terhadap mobil bermesin pembakaran tetap tinggi dan memberikan margin lebih besar dibandingkan EV.
Mercedes telah berkomitmen menanamkan investasi lebih dari 7 miliar dolar AS di AS, termasuk 4 miliar dolar hingga 2030 untuk meningkatkan produksi SUV di pabrik Alabama. Kaellenius bahkan membuka peluang untuk membangun produksi mesin di AS, tergantung pada hasil negosiasi ulang pakta perdagangan Amerika Utara yang tengah berlangsung.
Analis otomotif independen Matthias Schmidt menilai langkah ini sangat logis secara bisnis. "Jika Anda memproduksi secara lokal di AS, itu seperti mesin pencetak uang," ujarnya. Dengan biaya produksi yang lebih efisien dan perlindungan dari potensi tarif, keberadaan pabrik di AS menjadi benteng pertahanan sekaligus mesin pertumbuhan bagi Mercedes di tengah badai geopolitik.