Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Panasnya Geopolitik AS-China, Bos...
BERITA

Panasnya Geopolitik AS-China, Bos Mercedes Beri Sinyal Kuat Ini

By Dewi Lestari • 3 min read • 28 Juli 2026
CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius berbicara dalam konferensi pers tentang strategi bisnis di AS

CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius berbicara dalam konferensi pers tentang strategi bisnis di AS

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China kini merambat ke industri otomotif Jerman. Mercedes-Benz, yang dua pemegang saham terbesarnya berasal dari Negeri Tirai Bambu, terancam terkena imbas kebijakan Washington yang hendak memperketat aturan bagi produsen otomotif China.

Komite Perdagangan Senat AS pekan lalu menyetujui rancangan undang-undang yang memperkuat larangan bagi pabrikan China masuk ke pasar AS. Aturan ini secara teoritis bisa menghalangi Mercedes menjual kendaraannya di Negeri Paman Sam, mengingat dua pemegang saham terbesarnya adalah perusahaan China.

Menghadapi ancaman tersebut, CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius angkat bicara. Dalam konferensi pers rilis hasil keuangan kuartal kedua, ia menegaskan komitmen perusahaannya untuk tetap bertahan di pasar AS. "Jika kami perlu melakukan penyesuaian untuk mematuhi apa pun, kami akan memastikan bahwa kami melindungi kehadiran dan bisnis kami di AS," ujarnya tegas.

Kaellenius mengaku tidak naif terhadap dinamika geopolitik yang memanas antara AS dan China. Ia menyebutkan pihaknya terus memantau perkembangan aturan di Washington dan terlibat aktif dalam diskusi dengan pemangku kepentingan terkait. Pasalnya, BAIC Group dan pendiri Geely, Li Shufu, secara kolektif menggenggam hampir 20 persen saham Mercedes yang tercatat di bursa.

Di tengah tekanan itu, strategi Mercedes justru menunjukkan ekspansi agresif di AS. Penjualan di Negeri Paman Sam tumbuh 15 persen pada paruh pertama tahun ini, menjadi penyelamat di saat pasar China lesu akibat perang harga dan pergeseran ke mobil listrik (EV) yang dikuasai merek lokal. Di AS, permintaan terhadap mobil bermesin pembakaran tetap tinggi dan memberikan margin lebih besar dibandingkan EV.

Mercedes telah berkomitmen menanamkan investasi lebih dari 7 miliar dolar AS di AS, termasuk 4 miliar dolar hingga 2030 untuk meningkatkan produksi SUV di pabrik Alabama. Kaellenius bahkan membuka peluang untuk membangun produksi mesin di AS, tergantung pada hasil negosiasi ulang pakta perdagangan Amerika Utara yang tengah berlangsung.

Analis otomotif independen Matthias Schmidt menilai langkah ini sangat logis secara bisnis. "Jika Anda memproduksi secara lokal di AS, itu seperti mesin pencetak uang," ujarnya. Dengan biaya produksi yang lebih efisien dan perlindungan dari potensi tarif, keberadaan pabrik di AS menjadi benteng pertahanan sekaligus mesin pertumbuhan bagi Mercedes di tengah badai geopolitik.

Topics
mercedes-benz ola kaellenius otomotif jerman investasi china baic geely pasar as pabrik alabama geopolitik mobil mewah
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.