Bloomberg, Jakarta - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah masih memanas, jalur perairan strategis itu justru ramai dilintasi kapal-kapal komoditas, menurut data pelacakan maritim.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kapal pengangkut gas alam cair atau LNG, Al Areesh, tercatat meninggalkan Teluk Persia pada Kamis pagi waktu setempat. Kapal tersebut membawa muatan LNG dari Qatar, menandai pengiriman pertama negara itu dalam tiga minggu terakhir. Langkah ini dinilai sebagai sinyal keberanian pelaku industri energi di tengah situasi keamanan yang tidak menentu.
Di sisi lain, kapal pengangkut gas petroleum cair (LPG) bernama CYH Yongchun terpantau melintasi Selat Hormuz dengan kondisi transponder dimatikan. Praktik mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis kerap dilakukan untuk menghindari pelacakan, baik karena alasan keamanan maupun operasional.
Data dari perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan sebanyak 14 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Rabu kemarin, baik ke arah masuk maupun keluar. Angka ini melonjak dari pekan lalu yang hanya berada di kisaran satu digit. Namun, Kpler menyebut bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring pembaruan informasi.
Peningkatan lalu lintas ini terjadi di tengah klaim Amerika Serikat bahwa angkatan lautnya mengawal sejumlah kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Pemerintah AS sebelumnya telah meningkatkan kehadiran militer di kawasan untuk menjamin keamanan jalur pelayaran yang menjadi pintu utama ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah.
Analis geopolitik dari Institute for Maritime Studies, Jonathan R. Clarke, mengatakan bahwa aktivitas kapal di Selat Hormuz yang tetap tinggi mencerminkan ketahanan rantai pasok energi global. Menurutnya, pelaku pasar tampaknya telah mengkalkulasi risiko dan tetap menjalankan operasi selama jalur tersebut belum benar-benar tertutup.
Selat Hormuz merupakan jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sekitar 20% dari pasokan minyak dunia dan sepertiga dari perdagangan LNG global melewati selat ini. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak harga energi di pasar internasional.
Meski lalu lintas meningkat, beberapa perusahaan pelayaran tetap menerapkan protokol keamanan ekstra. Sejumlah kapal memilih untuk menunggu konvoi atau mengaktifkan pengawalan dari kapal perang asing, terutama untuk muatan bernilai tinggi seperti LNG dan minyak mentah.
Konflik di kawasan Timur Tengah yang masih berlanjut melibatkan beberapa negara dan kelompok bersenjata. AS bersama sekutunya terus memantau pergerakan kapal dan ancaman potensial dari rudal atau drone di sekitar selat. Militer AS telah mengerahkan kapal induk dan fregat untuk menjaga koridor laut.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia sempat berfluktuasi dalam pekan terakhir, namun belum menunjukkan lonjakan ekstrem seiring dengan masih terbukanya Selat Hormuz. Analis memperkirakan jika situasi keamanan memburuk dan selat terancam ditutup, harga minyak bisa melonjak hingga 20-30% dalam waktu singkat.