PT MRT Jakarta mulai menggenjot pembangunan pedestrian deck atau jembatan penghubung berbentuk lingkaran di kawasan Dukuh Atas. Proyek strategis ini kini sudah memasuki tahap tender dengan target kontraktor mulai bekerja pada November 2026 mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta Agus Trihan menyampaikan bahwa secara teknis pembangunan jembatan tersebut sangat mungkin direalisasikan meskipun memiliki tingkat kesulitan tinggi. Pasalnya, lokasi proyek berada di tengah kawasan dengan lalu lintas yang padat dan aktif.
"Kalau dipastikan jalan, jalan. Karena kita sekarang sudah mulai tender dengan harapan bisa on board kontraktornya di November," ujar Agus di Transport Hub Jakarta, Kamis (30/7/2026).
MRT Jakarta telah melakukan market sounding dengan sejumlah perusahaan konstruksi baja dan kontraktor sipil. Dari hasil penjajakan tersebut, pelaku industri menilai proyek tersebut bisa dikerjakan karena teknologi pembangunannya sudah tersedia di pasaran.
"Memang secara teknis sangat memungkinkan, cuma memang challenging. Tapi challenge itu kan bisa dijawab antara dengan waktu atau dengan uang. Jadi mungkin nanti cost-nya akan berbicara di situ," jelas Agus menambahkan.
Salah satu tantangan terbesar adalah pembangunan struktur baja di atas kawasan yang tetap beroperasi tanpa mengganggu aktivitas lalu lintas maupun transportasi publik. Karena itu, metode konstruksi khusus akan diterapkan selama proses pengerjaan berlangsung.
Di balik desainnya yang unik, bentuk lingkaran pada pedestrian deck ternyata bukan sekadar pertimbangan estetika. Agus mengungkapkan, desain itu dipilih untuk menjaga kesinambungan konsep tata kota Jakarta yang telah dirancang sejak era Presiden pertama RI, Soekarno.
Kawasan yang berada di sepanjang sumbu utama Jakarta, mulai dari Patung Pemuda Senayan, Simpang Semanggi, Bundaran HI hingga Patung Kuda, sama-sama mengusung elemen lingkaran sebagai titik orientasi kota. Bentuk lingkaran tersebut juga telah mendapat persetujuan Pemprov DKI Jakarta sebagai bagian dari konsep akhir proyek.
"Memang waktu desainnya Bung Karno dulu, pembuatan sumbu ini menggunakan simbol lingkaran sebagai pusat-pusat kota. Makanya kita juga membuat deck ini bulat untuk menghargai desain yang sudah dibuat oleh bapak pendiri bangsa kita," kenang Agus.
Sementara itu, TOD Planning Department Head MRT Jakarta Sagita Devi mengatakan desain pedestrian deck yang saat ini dipilih merupakan hasil dari serangkaian studi dan penyempurnaan. Awalnya proyek sempat dirancang dua lantai dengan area rooftop, namun desain tersebut berubah setelah mempertimbangkan kondisi lapangan, kepemilikan aset, hingga proses perizinan.
"Itu juga salah satu mitigasi dan proses perencanaan yang sebetulnya sudah kita antisipasi supaya project ini dapat direalisasikan di lapangan," ujar Sagita.