Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Pasien Palestina Terjebak Penutupan...
BERITA

Pasien Palestina Terjebak Penutupan Jalan, Bayi Meninggal di Ambulans

By Redaksi Kabayan News • 5 min read • 30 Juli 2026
Ambulans Palestina terjebak di pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat, pasien tak bisa mencapai rumah sakit

Ambulans Palestina terjebak di pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat, pasien tak bisa mencapai rumah sakit

Jumat malam pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan operasi militer skala besar di Tepi Barat usai serangan pemukim di desa Tal. Akibatnya, sebagian besar wilayah Tepi Barat, khususnya Governora Nablus, Ramallah, hingga Bethlehem, ditutup total. Ambulans pun terpaksa memutar jalan puluhan kilometer dan tertahan berjam-jam di pos pemeriksaan untuk mencapai rumah sakit.

Yousef Diriya, sopir ambulans berusia 50 tahun, mengaku terjebak empat jam di pos Awarta saat mengangkut pasien cuci darah. Perjalanan normal 20 kilometer kini membengkak hingga 100 kilometer. Bahkan dengan koordinasi dan izin, kata Diriya, prosedur pemeriksaan, foto KTP, dan foto ambulans selalu berulang tanpa kecuali. Setiap menit sangat berharga bagi pasien gawat darurat, namun waktu terus terbuang di pos pemeriksaan.

Senin dini hari, sopir ambulans Bashar al-Qaryuti menjemput ibu hamil 6 bulan dari Qaryut yang mengalami pendarahan hebat. Di pos Awarta, tentara memaksa ambulans dimatikan, membuat alat medis ikut mati. Penumpang digeledah, termasuk ibu hamil yang kesakitan. Akibat penundaan itu, janin dalam kandungan meninggal sebelum mencapai rumah sakit. Peristiwa ini membuat sang ibu dan al-Qaryuti sangat terpukul.

Pembatasan di Tepi Barat memang terus meningkat sejak pemerintahan sayap kanan Israel berkuasa pada akhir 2022 dan perang genosida di Gaza dimulai Oktober 2023. Jumlah pos pemeriksaan bertambah dan pintu masuk desa ditutup. Pada 5 Juli, bayi tiga bulan Ahmad Zaid dari kamp Deir Ammar meninggal setelah tentara Israel menolak membuka gerbang militer yang menghubungkan kamp ke rumah sakit Ramallah. Ayahnya membawa bayi itu sambil memohon, tapi tetap ditolak.

Pada 18 Juli, sehari sebelum penutupan total, Sujood Fuqahaa dari Sinjil meninggal akibat serangan jantung setelah ambulansnya tak diizinkan lewat saat desanya dikepung seminggu penuh. Imran Anati, peneliti dari Physicians for Human Rights-Israel, mengatakan sistem kesehatan di Tepi Barat kini ambruk. Pasokan medis menipis dan pendanaan rumah sakit tersendat karena Israel menahan pendapatan pajak Otoritas Palestina.

PBB mencatat sekitar 925 hambatan pergerakan di Tepi Barat yang memengaruhi 3,4 juta warga Palestina. Namun Diriya dan tenaga medis lain menggambarkan penutupan di Nablus sejak Jumat lalu sebagai pembatasan paling parah sejak Oktober 2023. Anati menyebut ini sebagai hukuman kolektif terhadap warga Palestina. Tak hanya itu, Jumat lalu pasukan Israel masuk ke Nablus Specialised Hospital, memborgol tenaga medis, dan menahan dua bersaudara yang dirawat akibat tembakan di dekat Tal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 233 serangan terhadap fasilitas kesehatan, pekerja, dan ambulans di Tepi Barat sepanjang 2025. Anati mengingatkan taktik serupa pernah dilakukan di Gaza. Kini pola yang sama diterapkan di Tepi Barat. Di desa Aqraba, dr Ayser Bani Jaber menceritakan dua ibu hamil datang ke klinik kecilnya Minggu dini hari. Keduanya tak bisa mencapai Rumah Sakit Rafidia di Nablus karena jalan ditutup. Beruntung istri dr Bani Jaber, dr Yusra Dweikat, yang adalah ginekolog di Rafidia, kebetulan ada di rumah dan membantu persalinan di klinik darurat.

Namun setelah persalinan kedua, ibu mengalami pendarahan. Klinik tak punya bank darah karena satu-satunya ada di Nablus. Butuh setengah jam negoisasi agar ambulans diizinkan memindahkan pasien. Anati mendesak otoritas Israel menjamin akses ambulans yang aman dan lancar sesuai hukum humaniter internasional. Setelah insiden keguguran pasien dari Qaryut, Diriya sempat mengatakan pembatasan sedikit melonggar, namun Senin malam seorang ibu hamil lain kembali mengalami pendarahan dan harus dialihkan ke rumah sakit di Salfit karena Nablus masih tertutup.

Bayi itu akhirnya lahir di ambulans dalam perjalanan, hanya beberapa menit sebelum mencapai rumah sakit. Bagi para sopir ambulans dan dokter di desa-desa yang terkepung, setiap hari adalah perjuangan antara hidup dan mati dengan sumber daya yang sangat minim. Bani Jaber mengakui memberikan bantuan medis memadai di desa sangat sulit dan sangat menentukan keselamatan pasien. Apa pun yang bisa dilakukan bergantung pada usaha mereka sendiri.

Diriya menyoroti ketidakadilan yang menyakitkan: saat ambulansnya tertahan berjam-jam di pos pemeriksaan, ia melihat ambulans Israel dengan pelat kuning melintas bebas. Sebagai petugas medis, ia melayani semua orang tanpa memandang ras atau agama. Namun perlakuan berbeda ini sangat mendemoralisasi. Melihat rekan sesama paramedis karena bukan Palestina bisa lewat bebas, sementara dirinya tak punya kebebasan sama sekali, sungguh memengaruhi psikologisnya secara mendalam.

Topics
tepi barat pasien palestina penutupan jalan israel ambulans krisis kesehatan nablus konflik israel-palestina hak asasi manusia korban sipil who
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.