Islamic Resistance in Iraq, payung bagi sejumlah faksi bersenjata yang beraliansi dengan Iran, mengancam akan melakukan pembalasan militer terhadap Amerika Serikat dan Saudi Arabia. Ancaman ini muncul menyusul serangan gabungan yang mereka tuduh dilakukan kedua negara itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam pernyataan resmi, kelompok tersebut kembali membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi. Mereka justru menuduh Washington dan Riyadh melakukan serangan terhadap markas Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak atau PMF serta konvoi peziarah menuju kota suci Karbala.
Kelompok itu memberi tenggat waktu hingga pekan depan kepada otoritas Irak yang sebelumnya menyerukan pelucutan senjata. Mereka ingin melihat kemampuan pemerintah dalam mempertahankan kedaulatan negara, seraya menyebut respons terhadap apa yang mereka sebut "musuh Amerika" sudah tak terhindarkan.
Ancaman pembalasan juga bisa menyasar "instrumennya di Saudi Arabia" jika situasi mengharuskan, demikian pernyataan kelompok tersebut. Ini menandakan potensi perluasan serangan ke luar perbatasan Irak.
Lebih awal pada Rabu, PMF melaporkan setidaknya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka dalam serangan gabungan AS-Saudi. Markas resmi PMF di tujuh provinsi menjadi sasaran, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala.
Jumlah korban disebut masih bersifat sementara dan bisa bertambah seiring proses identifikasi. PMF mengecam keras serangan tersebut sebagai pelanggaran serius atas kedaulatan Irak.
Eskalasi terbaru ini memicu perdebatan baru tentang masa depan faksi bersenjata pro-Iran di Irak. Meskipun PMF secara resmi menjadi bagian dari aparat keamanan negara, sejumlah kelompok bersenjata di bawah bendera Islamic Resistance in Iraq masih mempertahankan struktur komando independen.
Kelompok-kelompok itu selama ini menolak panggilan pemerintah untuk menyerahkan senjata. Sikap ini semakin mempersulit upaya Baghdad dalam mengendalikan kekuatan di luar kendali negara di tengah tekanan AS dan Saudi.
Para analis menilai ancaman pembalasan ini berpotensi memicu siklus kekerasan baru di Irak. Dengan adanya serangan balasan yang diklaim tak terhindarkan, kawasan yang sudah panas bisa semakin bergolak.