Presiden Donald Trump kembali gagal mewujudkan keinginannya untuk menurunkan suku bunga Amerika Serikat. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini diprediksi akan berakhir dengan keputusan mempertahankan suku bunga, atau bahkan menaikkannya, dan salah satu faktor utamanya justru berasal dari kebijakan luar negeri Trump sendiri.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Para analis Wall Street mulai pekan ini menyimpulkan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh tidak punya ruang untuk memangkas bunga. FOMC yang akan bersidang pada Selasa dan Rabu (28-29/7) itu masih bergulat dengan target inflasi 2% yang belum juga tercapai, di mana saat ini inflasi masih bertahan di angka 3,5%.
Meskipun terjadi penurunan dari Mei ke Juni, tekanan harga masih terasa. Salah satu penyumbang terbesar adalah kenaikan harga bahan bakar yang melonjak 15,7% secara tahunan, imbas dari konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak global. Meski tekanan di sektor ini mulai mereda dengan penurunan 4,9% dari Mei ke Juni, harga tetap tinggi.
Belum ada tanda-tanda resolusi antara Washington dan Teheran. Meski kedua pihak tidak lagi terlibat konflik militer aktif seperti dua pekan terakhir, gencatan senjata resmi belum diumumkan. Ketegangan soal kendali atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, juga belum menunjukkan titik temu.
Kebijakan luar negeri Trump dinilai menjadi batu sandungan bagi langkah Warsh untuk memangkas bunga. Analis Bank of America dalam catatannya menyebut, pasar sudah memperhitungkan hampir 10 basis poin kenaikan suku bunga pada Juli, sehingga Warsh kini berada di posisi sulit. "Jika tidak menaikkan, kredibilitas The Fed dalam mengendalikan inflasi bisa dipertanyakan. Namun jika menaikkan, itu bertentangan dengan kerangka kebijakannya yang melihat guncangan pasokan sebagai faktor sementara," tulis tim ekonom Bank of America yang dipimpin Aditya Bhave.
Soal kredibilitas inilah yang menjadi sorotan utama. Setelah Trump melancarkan serangan tanpa preseden terhadap pendahulu Warsh, Jerome Powell, banyak pihak mempertanyakan apakah Warsh akan tunduk pada keinginan presiden atau tetap pada data. Sejauh ini Warsh belum menunjukkan sikap "tunduk", namun keengganan untuk menaikkan suku bunga jika diperlukan juga bisa memicu kekhawatiran serupa.
Kendati Warsh dikenal ketat menjaga komunikasi dan menolak forward guidance, sejumlah pejabat The Fed lain mulai bersuara lantang. "Kekosongan komunikasi dari Ketua Warsh justru mendorong pembuat kebijakan lain untuk berbicara lebih tegas. Pesan mereka mengerucut: setelah berbulan-bulan inflasi mengejutkan, kesabaran mulai menipis. Jika inflasi tak kunjung turun ke 2% karena guncangan pasokan, permintaan AI, tarif, atau konflik Timur Tengah, maka opsi pengetatan kebijakan akan jelas," ujar Gregory Daco, ekonom utama EY-Parthenon.
Proyeksi ini juga tercermin dari alat ukur FedWatch milik CME. Berdasarkan harga futures dana Fed 30 hari, sebanyak 68,5% pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan dipertahankan dalam pertemuan pekan ini. Sisanya memprediksi kenaikan 25 basis poin menjadi kisaran 3,75% hingga 4%.
Keputusan FOMC pekan ini akan menjadi ujian penting bagi kredibilitas Warsh dan arah kebijakan moneter AS ke depan. Di tengah tekanan politik dan ketidakpastian geopolitik, langkah The Fed akan sangat menentukan kepercayaan pasar terhadap kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas harga.