Amerika Serikat mengakui hampir 100 personel militernya mengalami luka-luka dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya konflik bersenjata dengan Iran. Pengakuan tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon ketika Teheran terus melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan keterangan Juru Bicara Pentagon Sean Parnell, pihaknya mengonfirmasi bahwa hampir 100 anggota militer AS mengalami cedera akibat serangan balasan tersebut. Menurut penjelasannya, sebagian besar korban mengalami cedera ringan berupa gegar otak, dan sekitar 96 persen di antaranya telah kembali bertugas setelah menjalani perawatan medis.
Dari pantauan redaksi, selain korban luka-luka, tiga tentara Amerika Serikat juga dilaporkan tewas dalam pertempuran yang terjadi di Yordania dan Irak selama sepekan terakhir. Bertambahnya jumlah korban jiwa dan luka menunjukkan eskalasi konflik antara Washington dan Teheran yang kian memuncak.
Menurut laporan yang dihimpun, Sean Parnell membantah tuduhan media lokal yang menyebut lembaga pertahanan itu menutupi jumlah korban. "Pentagon tidak pernah menyembunyikan informasi mengenai personel militer yang menjadi korban dalam konflik ini," tegas Parnell saat membantah isu yang beredar.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, ketegangan terbaru bermula setelah kesepakatan gencatan senjata sementara melalui Memorandum of Understanding (MoU) pada pertengahan Juni 2026 gagal dipertahankan. Situasi semakin memanas pascaserangan terhadap kapal tanker Qatar Al Rekayyat dan tanker Arab Saudi Wedyan pada awal Juli 2026, yang berujung pada pembatalan kesepakatan oleh Presiden Donald Trump.
Sebagai balasan atas serangan udara AS selama 10 malam berturut-turut, Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan gempuran terhadap instalasi militer AS di Bahrain dan Kuwait. Teheran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada kelancaran distribusi pasokan energi dan memicu krisis minyak global.