Hotel des Indes tercatat sebagai salah satu akomodasi paling tertua dan bergengsi di kawasan Asia selama beroperasi di Batavia, Hindia Belanda, sejak tahun 1829 hingga 1971. Keberadaan bangunan bersejarah ini sempat menampung banyak tokoh terkenal dunia sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan modern.
Jejak kepemilikan lahan hotel ini bermula dari Reinier de Klerk pada tahun 1760 sebelum berpindah tangan ke beberapa pihak hingga dibeli oleh warga Prancis bernama Antoine Surleon Chaulan pada tahun 1829. Chaulan mendirikan hotel di lokasi tersebut dengan nama Hotel de Provence atas usulan sastrawan terkenal Multatuli.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePergantian nama serta kepemilikan terus terjadi seiring berjalannya waktu, mulai dari Rotterdamsch Hotel di bawah manajemen Cornelis Denning Hoff hingga akhirnya resmi menyandang nama Hotel des Indes pada 1 Mei 1856 atas usulan Douwes Dekker. Di bawah kepemimpinan François Auguste Emile Wijss, hotel ini semakin dikenal luas oleh para pelancong mancanegara.
Reputasi kemewahan tempat ini diakui oleh banyak tokoh penting dunia, termasuk penulis Amerika John T. McCutcheon yang menyebut fasilitas akomodasi ini melampaui standar hotel lain di Asia pada tahun 1910. Tradisi penyajian kuliner rijsttafel dengan puluhan pelayan menjadi salah satu daya tarik utama bagi para tamu bangsawan kolonial.
Sajian Kuliner Megah dan Berkelas di Hotel des Indes
Pasca kemerdekaan Indonesia, bangunan ikonis tersebut sempat berganti nama menjadi Hotel Duta Indonesia sebelum akhirnya mengalami penurunan pendapatan akibat persaingan ketat dengan kehadiran Hotel Indonesia. Pemerintah akhirnya membongkar bangunan bersejarah ini pada tahun 1971 untuk dibangun kawasan pertokoan Duta Merlin.
Daya tarik utama hotel legendaris ini tidak hanya terletak pada arsitektur bangunannya, melainkan juga pada kemegahan ruang makan utama yang disebut dining room saloon. Ruangan luas berkapasitas sekitar 500 tamu tersebut dilengkapi pilar-pilar berukir indah di bagian langit-langitnya.
Manajemen hotel secara rutin mengiklankan daftar menu makanan mewah melalui surat kabar lokal Java Bode untuk menarik minat kaum elit Eropa di Batavia. Standar hidangan yang ditawarkan disetarakan dengan restoran kelas atas di kota-kota besar dunia seperti Paris dan New York.
Berbagai hidangan aristokrat Eropa menghiasi meja makan para tamu terhormat, mulai dari Jamon Glace, Anguiles a la Bordelaise, Dindonneau Truffe, hingga hidangan penutup penstimulasi selera. Kehadiran menu-menu tersebut membuktikan selera kuliner warga Eropa di Batavia pada masa lampau sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.