Istana Alwatzikoebillah berdiri megah di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sebagai simbol kejayaan Kesultanan Sambas. Bangunan ini pernah menjadi pusat pemerintahan penting sebelum kekuasaan kesultanan berakhir di wilayah tersebut.
Sejarah istana ini bermula dari kepindahan Raden Sulaiman, Sultan Sambas pertama, ke kawasan Lubuk Madung yang berada di titik pertemuan Sungai Subah, Sungai Sambas Kecil, dan Sungai Teberau. Lokasi strategis ini kemudian dipilih sebagai pusat pemerintahan kesultanan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBangunan yang terlihat saat ini merupakan hasil pembangunan pada masa Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin, sultan ke-15 Kesultanan Sambas. Proses pembangunan istana berlangsung relatif singkat, yakni dimulai tahun 1933 hingga rampung pada 1935.
Pembangunan istana yang menelan biaya mencapai 65.000 gulden tersebut memiliki fakta unik, di mana pendanaannya berasal dari pinjaman Kesultanan Kutai Kartanegara. Hingga saat ini, Istana Alwatzikoebillah tetap menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Keunikan Arsitektur dan Kompleks Istana Sambas
Pengunjung yang memasuki kawasan Istana Alwatzikoebillah akan disambut dua gapura utama. Gapura pertama berfungsi sebagai pembatas antara alun-alun dengan jalan raya, sementara gapura kedua memisahkan alun-alun dengan area istana.
Di bagian belakang alun-alun, terdapat struktur unik berupa tiang menyerupai tiang kapal yang dikelilingi tiga buah meriam. Objek ini disangga empat tiang kokoh yang masing-masing memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat setempat.
Tidak jauh dari lokasi utama, terdapat masjid bersejarah yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Shafiuddin II. Masjid ini terletak tepat di sebelah kanan atau sisi selatan alun-alun Kesultanan Sambas.
Arsitektur masjid terdiri dari dua tingkat dengan interior yang disangga delapan tiang kayu belian berukuran besar. Keberadaan bedug, kendi raksasa, dan mimbar antik di dalamnya menambah nilai historis bangunan yang masih terjaga hingga kini.