Jindai moji atau Kamiyo moji merupakan aksara misterius yang diklaim telah digunakan di Jepang kuno dan pertama kali menarik perhatian luas sejak pertengahan zaman Edo.
Berdasarkan catatan sejarah, konsep mengenai keberadaan aksara ini mulai muncul pada akhir zaman Kamakura ketika Urabe no Kanekata mencatat dalam Shaku Nihongi bahwa sistem penulisan diperlukan untuk melakukan peramalan gaya tulang kura-kura.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah cendekiawan pada masa lalu sempat memperdebatkan keaslian aksara tersebut, di mana tokoh seperti Tsurumine Shigenobu mendukungnya sementara pakar lain seperti Kaibara Ekken dan Motoori Norinaga secara tegas menolaknya.
Dari analisis awak media, perdebatan panjang di kalangan akademisi serta ketiadaan bukti arkeologis berupa temuan gerabah membuat konsensus ilmiah sepakat menganggap aksara ini tidak memiliki keaslian historis.
Kontroversi mengenai aksara kuno ini semakin memuncak pada tahun 1930 ketika kelompok agama Amatsukyō berurusan dengan hukum akibat menggunakan dokumen bertuliskan aksara tersebut dalam praktik mereka.