Aksara Komering merupakan salah satu warisan budaya tradisional di Sumatera Selatan yang kini menghadapi ancaman kepunahan serius akibat pergeseran zaman dan minimnya dokumentasi digital. Berdasarkan penelusuran sejarah, sistem penulisan abugida ini memiliki kedekatan rumpun dengan Aksara Lampung serta Aksara Ogan, yang berkembang di sekitar aliran Sungai Komering.
Berdasarkan analisis tim redaksi, keberadaan aksara ini dulunya bukan sekadar alat komunikasi biasa, melainkan media sandi rahasia para pemimpin adat atau Pesirah untuk menyusun strategi perlawanan terhadap kolonial Belanda. Karena memuat informasi sensitif, naskah-naskah tersebut sengaja disembunyikan, dikeramatkan, hingga akhirnya memicu berbagai mitos mistis di tengah masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Dahulunya naskah disimpan rapat dan tidak sembarangan orang boleh melihatnya karena takut jatuh ke tangan penjajah," ujar pengamat budaya lokal dalam catatan sejarahnya.
Seiring berjalannya waktu, naskah-naskah kuno tersebut banyak yang rusak dimakan rayap, dibuang oleh pewaris karena ketidaktahuan, atau bahkan sengaja dibakar. Ditambah lagi dengan masifnya penggunaan alfabet Latin serta minimnya standarisasi font untuk kebutuhan digital, membuat eksistensi Aksara Komering semakin tenggelam.