Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Profil Kesultanan Riau-Lingga,...
BERITA

Profil Kesultanan Riau-Lingga, Sejarah dan Akar Bahasa Indonesia

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 7 Agustus 2026
Ilustrasi peninggalan sejarah dan peta wilayah Kesultanan Riau-Lingga

Ilustrasi peninggalan sejarah dan peta wilayah Kesultanan Riau-Lingga

Profil Kesultanan Riau-Lingga merekam perjalanan sebuah kerajaan Melayu yang berdiri di Pulau Lingga sejak tahun 1824 akibat pembagian wilayah Kesultanan Johor Riau lewat Traktat London. Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan tersebut diprakarsai oleh Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah setelah intervensi Britania Raya dan Belanda dalam kemelut suksesi takhta. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Kepulauan Riau serta sebagian kecil Indragiri Hilir dengan pusat pemerintahan awal di Tanjungpinang sebelum berpindah ke Pulau Lingga.

Analisis awak media menunjukkan bahwa pemilihan Pulau Lingga sebagai pusat pemerintahan didasari pertimbangan taktis karena kondisi geografisnya yang aman dari jangkauan kapal kolonial. Kehidupan internal kesultanan dijalankan melalui pembagian wewenang yang jelas antara sultan, yang dipertuan muda, serta kalangan ulama sebagai penasihat spiritual. Kendati menghadapi perpolitikan luar negeri rumit akibat persaingan kekuatan asing seperti Portugal hingga Hindia Belanda, kerajaan tetap tumbuh menjadi pusat pembelajaran Islam yang sangat disegani.

Perkembangan kebudayaan dan intelektual di wilayah kekuasaan ini mencapai puncak gemilang berkat tradisi tulis-menulis menggunakan Abjad Jawi atau Arab-Melayu. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, para cendekiawan dan ulama aktif menerjemahkan kitab keagamaan serta mendirikan pusat percetakan surat kabar litograf di Pulau Penyengat. Kontribusi terbesar peradaban tersebut adalah penyempurnaan dialek istana menjadi bahasa Melayu baku yang kemudian diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda Indonesia tahun 1928.

Pengaruh politik kolonial Hindia Belanda perlahan menggerus kedaulatan internal kerajaan hingga memicu ketegangan di bawah kepemimpinan penguasa terakhir. Berdasarkan pengamatan sejarah, Sultan Abdurrahman Muazam Syah memilih memindahkan pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat dan mendirikan perkumpulan Rusydiah demi mempertahankan kedaulatan budaya. Sikap ketidakpatuhan terhadap kebijakan kolonial akhirnya membuat Hindia Belanda membubarkan Kesultanan Riau-Lingga secara resmi pada tanggal 10 Februari 1911 dan memaksa sang sultan bersama para bangsawan mengungsi ke Singapura.

Topics
kesultanan riau-lingga sejarah profil pulau penyengat bahasa indonesia hindia belanda sultan abdul rahman
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.