Profil K.H. Hasyim Asy'ari mencatat kiprah seorang ulama besar, pahlawan nasional, serta pendiri sekaligus Rais Akbar organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Lahir di Desa Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur, pada 14 Februari 1871, beliau merupakan putra pasangan K.H. Asy'ari dan Ny. H. Halimah.
Berdasarkan catatan sejarah, beliau juga dikenal sebagai pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren tertua di Kabupaten Jombang. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa garis keturunan beliau melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa, termasuk putranya K.H. A. Wahid Hasyim dan cucunya K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePendirian Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 31 Januari 1926 dilandasi oleh semangat patriotisme serta respons terhadap dinamika sosial-politik global awal abad ke-20. Menurut catatan sejarah, sebelum mendeklarasikan organisasi tersebut, Kyai Hasyim sempat meminta restu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan melalui perantara Kiai As'ad yang mengantarkan tongkat dan tasbih.
Pemikiran keagamaan beliau berpegang pada paham Ahlussunnah wal Jama'ah dengan merujuk pada tradisi mazhab empat, yakni mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali. Dari analisis awak media, pemikiran ini menjadi fondasi kuat dalam menjaga tradisi keislaman moderat di tengah masyarakat Nusantara.
Peran besar beliau dalam mempertahankan kemerdekaan tercermin melalui keluarnya fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk merespons ancaman kembalinya pasukan kolonial. Fatwa tersebut membakar semangat juang umat Islam di seluruh Jawa dan Madura untuk membela kedaulatan Republik Indonesia.
Beliau wafat pada tanggal 25 Juli 1947 setelah mendengar kabar jatuhnya kawasan Singosari ke tangan militer asing akibat Agresi Militer I. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Diwek, Jombang, meninggalkan warisan pemikiran keislaman dan kebangsaan yang terus hidup hingga kini.