Profil Mooryati Soedibyo mencakup perjalanan hidupnya sebagai seorang politikus, pengusaha, serta pakar kecantikan terkemuka di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, ia lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 5 Januari 1928 dan wafat pada 24 April 2024. Sebagai anggota keluarga Kesunanan Surakarta, ia merupakan cucu dari Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Sri Susuhunan Pakubuwana X dan menyandang gelar bangsawan Bendara Raden Ayu.
Masa kecil Mooryati dihabiskan di lingkungan keraton sejak usia tiga tahun. Dari sana, ia mendapatkan pendidikan tradisional mendalam meliputi tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik, meramu jamu tradisional, hingga pengenalan tumbuh-tumbuhan berkhasiat dari neneknya. Bekas didikan keraton tersebut membentuk landasan kuat bagi keahliannya di bidang kecantikan herbal dan kosmetika alami.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan karier bisnis dimulai pada tahun 1973 ketika ia mulai mengembangkan resep ramuan keraton sebagai usaha komersial berawal dari garasi rumah. Bisnis jamu tersebut berkembang pesat hingga mendirikan perusahaan kosmetik Mustika Ratu pada tahun 1975. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, ekspansi produknya merambah hingga ke mancanegara serta menjadikannya salah satu pengusaha wanita paling sukses di tanah air.
Selain dunia usaha, kiprah Mooryati di kancah sosial dan budaya sangat menonjol melalui pendirian ajang Pemilihan Puteri Indonesia pada tahun 1992. Gagasan tersebut muncul setelah ia menyaksikan penyelenggaraan ajang kecantikan internasional di Bangkok. Melalui yayasan tersebut, ia berupaya mengangkat kepercayaan diri wanita Indonesia untuk tampil di panggung dunia seperti Miss Universe dan kontes internasional lainnya.
Di bidang politik dan akademik, ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia periode 2004 hingga 2009. Berdasarkan catatan prestasi akademiknya, ia meraih gelar doktor manajemen strategis dari Universitas Indonesia serta tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai peraih gelar doktor tertua sekaligus menyandang predikat Empu Jamu.