Profil Pakubuwana X mencatat perjalanan hidup seorang susuhunan besar dari Kesunanan Surakarta yang memegang takhta dari tahun 1893 hingga 1939. Lahir dengan nama Gusti Raden Mas Sayyidin Malikul Kusna pada 29 November 1866, ia merupakan putra dari Susuhunan Pakubuwana IX dan permaisuri KRAy. Kustiyah.
Berdasarkan ketetapan pemerintah Republik Indonesia, Pakubuwana X dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional berkat jasa besar serta peran aktif dalam perjuangan pergerakan nasional. Ia dikenal sebagai pelopor pembangunan infrastruktur, pemberdayaan sosial-ekonomi, kesehatan, pendidikan rakyat, serta penggerak integrasi nasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam catatan sejarah pergerakan nasional, Pakubuwana X memberikan dukungan penuh kepada para pejuang melalui fasilitas, materi, keuangan, dan moral. Ia tercatat turut membantu pergerakan Budi Utomo serta mendukung proses pendirian Sarekat Dagang Islam.
Masa pemerintahan Pakubuwana X ditandai dengan transisi penting dari kerajaan tradisional menuju era modern di tengah berbagai dinamika politik kolonial Hindia Belanda. Kepemimpinannya berhasil membawa Kesunanan Surakarta menuju era kemajuan melalui inovasi di berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Pembangunan Infrastruktur dan Modernisasi Surakarta
Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Pakubuwana X mencakup berbagai bidang vital seperti ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan rakyat. Di bidang ekonomi, ia mendirikan Pasar Gede Harjonagoro serta Bank Bandhalumaksa untuk membantu permodalan abdi dalem.
Fasilitas kesehatan dan pendidikan juga berkembang pesat melalui pendirian klinik Panti Raga yang kini menjadi Rumah Sakit Kadipala serta apotek Panti Husada. Di sektor pendidikan, ia membangun Sekolah Pamardi Putri, HIS Ksatriyan, madrasah Mambaul Ulum, hingga menghidupkan kembali Pesantren Jamsaren.
Selain itu, pembangunan infrastruktur modern menghiasi masa kepemimpinannya, termasuk Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo-Kota, Taman Sriwedari, Stadion Sriwedari, Jembatan Jurug, hingga Kebun Binatang Jurug. Seluruh fasilitas tersebut dibangun untuk menunjang kesejahteraan masyarakat luas di wilayah Surakarta.
Strategi politik yang diterapkan Pakubuwana X tergolong sangat hati-hati dan taktis dalam menghadapi tekanan kolonial Hindia Belanda. Ia mampu menjalankan perannya sebagai raja tradisional sekaligus memberikan ruang bagi organisasi pergerakan nasional untuk tumbuh tanpa hambatan berarti.