Sutan Sjahrir merupakan negarawan ulung sekaligus pemimpin kemerdekaan Indonesia yang mencatatkan sejarah penting sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia dari tahun 1945 hingga 1947. Tokoh kelahiran Padang Panjang ini dikenang luas sebagai seorang intelektual berhaluan sosialis yang memainkan peran sentral dalam Revolusi Nasional.
Lahir pada 5 Maret 1909 dari pasangan Mohammad Rasad dan Puti Siti Rabiah, Sjahrir tumbuh dalam lingkungan keluarga terpandang yang mendukung kecerdasan serta jiwa kritisnya sejak usia muda di Medan dan Bandung.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSemasa menempuh pendidikan di AMS Bandung, ia aktif menginisiasi gerakan sosial serta dunia teater sebelum akhirnya melanjutkan studi ilmu hukum di Universitas Amsterdam, Belanda, tempat ia memperdalam ideologi sosialisme.
Kecintaannya terhadap tanah air membawanya kembali ke Indonesia untuk mendirikan PNI Baru dan menggembleng kader-kader pergerakan agar siap merebut kemerdekaan dari cengkeraman kekuasaan kolonial.
Peran Strategis Gerakan Bawah Tanah dan Akhir Hayat
Selama masa pendudukan Jepang, Sjahrir dengan cerdik memilih jalur gerakan bawah tanah anti-fasis karena meyakini kekalahan pihak Jepang sudah berada di ambang mata.
Ia bersama jaringan anak muda progresif secara sembunyi-sembunyi memantau perkembangan Perang Dunia melalui siaran radio luar negeri demi menyiapkan momentum emas kemerdekaan Indonesia.
Menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan, Sjahrir bersama kelompok pemuda aktif mendesak kepemimpinan nasional agar segera melepaskan diri dari pengaruh bayang-bayang Jepang tanpa menunggu izin pihak asing.
Di pengujung usianya, sang pahlawan nasional menghembuskan napas terakhir dalam status sebagai tawanan politik pada 9 April 1966 dan dimakamkan dengan penghormatan tinggi di TMP Kalibata, Jakarta.