Profil WJS Poerwadarminta mencatat perjalanan hidup seorang tokoh sastra dan ahli perkamusan terkemuka Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan bahasa. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 12 September 1904, Welfridus Josephus Sabarija Poerwadarminta atau akrab disapa WJS Poerwadarminta tumbuh dari keluarga sederhana dan sempat menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi pada masa penjajahan Belanda.
Berdasarkan catatan sejarah, masa kecilnya diwarnai perjuangan berat setelah diasuh sang nenek dalam kondisi serba kekurangan. Beruntung, kepedulian seorang pastor membuka jalan baginya untuk menempuh pendidikan di Sekolah Angka Loro di Kintelan, Yogyakarta, hingga kemudian melanjutkan ke Sekolah Guru atau Normaal School di Muntilan dan Ambarawa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKarier cemerlangnya dimulai tatkala ia diangkat menjadi guru Sekolah Dasar Kanisius di Kumendaman, Yogyakarta, pada tahun 1923. Di tengah kesibukannya mengajar, ia menunjukkan ketekunan luar biasa dengan mempelajari berbagai bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Sanskerta, hingga bahasa Melayu secara autodidak.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan dedikasi luar biasa diperlihatkan Poerwadarminta ketika ia mengabdikan diri di Balai Pustaka serta memimpin redaksi majalah Kedjawen. Kontribusi terbesarnya bagi peradaban Nusantara tercermin dari karya monumental berupa Kamus Umum Bahasa Indonesia serta Kamus Baoesastra Djawa yang menjadi fondasi penting leksikografi modern.
Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahinya penghargaan Satya Lencana Kebudayaan atas jasa besar dalam bidang bahasa dan kebudayaan. Sang tokoh besar berpulang pada tanggal 28 November 1968, namun warisan literasi miliknya tetap hidup abadi sebagai pilar utama perkembangan bahasa nasional.