Dinamika pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Aceh Tenggara kembali menuai perhatian publik. Kali ini, program infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan petani menjadi topik hangat di tengah masyarakat setempat.
Sebagaimana diwartakan oleh Waspada Online pada Jumat (21/8/2026), proyek jaringan irigasi melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) mendapat sorotan tajam dari kalangan aktivis mahasiswa.
Mahasiswa jurusan agroteknologi sekaligus aktivis setempat, Bulkainisyah, mengungkapkan bahwa proyek yang berasal dari serapan aspirasi anggota Komisi V DPR RI tersebut dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar di lapangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Belum dapat menyelesaikan persoalan tata guna air irigasi di Aceh Tenggara. Artinya, masih banyak ditemui lahan persawahan yang membutuhkan pembangunan sarana bangunan tersebut," ujar Bulkainisyah sebagaimana dikutip dari laporan Waspada Online.
Menurutnya, meskipun sebagian besar kebutuhan air bagi para petani sudah mulai teratasi, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak area persawahan yang luput dari perhatian dan sangat membutuhkan sentuhan infrastruktur irigasi.
Berdasarkan hasil penelusuran dan penelitian yang dilakukan di lapangan, wilayah seperti Kecamatan Bukit Tusam dan Semadam menjadi contoh nyata daerah yang masih kekurangan fasilitas jaringan air yang memadai untuk menunjang produktivitas pertanian.
Menanggapi persoalan tersebut, pihak berwenang sebelumnya pernah memaparkan bahwa proyek P3-TGAI di wilayah ini melibatkan ratusan titik lokasi yang diusulkan melalui berbagai fraksi partai politik lewat rumah aspirasi dewan.
Kendati demikian, para mahasiswa berharap agar pengawasan dan penentuan sasaran program ke depan bisa lebih tepat sasaran sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh petani di Aceh Tenggara.